Malam ini, malam minggu ini saya akan menceritakan seseorang yang sudah lama saya lupakan. Dia adalah seorang sahabat yang saya biarkan pergi ketika keegoisan saya mulai mucul.
Dia sangat baik. Saking baiknya dia selalu antar jemput saya ke kampus. Menemani saya kalau saya ingin jalan-jalan. Menunggi saya sampai kuliah saya usai. Bolos kuliah demi terus bersama saya dan tidak jarang mentarktir saya makan setiap waktu makan tiba.
Saya selalu heran kenapa dia mau melakukan hal itu. Padahal saya tidak pernah memaksa dia untuk bersikap demikian apabila ingin berteman dengan saya. Saya kadang risih karena kemana-mana selalu bersama dia. Belum lagi setiap hari dia menelfon dan sms saya. Padahal kita ketemu setiap hari.
Kalau saya mau ge'er tentu saja sikap dia saya anggap sebagai petunjuk bahwa dia naksir saya. Namun saya tepis anggapan itu karena dia sudah mempunyai pacar saat itu.
Beberapa teman kita menganggap kita sudah jadian. Tentu saja anggapan mereka demikian karena kita selalu jalan berdua. Bahkan ketika nilai-nilai dia hancur dia hanya ingin bersama saya seharian. Bukan bersama teman-teman cowoknya yang sepertinya akan bisa menghiburnya lebih baik dari pada saya.
Dia itu tampan sebenarnya sebagi ukuran laki-laki. Namun apa ukuran tampan saja yang bisa membuat seorang wanita jatuh cinta kepada laki-laki? apa hanya ukuran baik? tentu tidak.
Saya suka dan betah duduk berlama-lama dengan orang yang bisa saya ajak diskusi. Jadi kelak jika saya bosan melihat kebaikan dan ketapanan dia diskusi bisa dijadiakan alternatif menghabiskan waktu berdua.
Meski saya tidak yakin dia menyukai saya atau tidak saya mulai kikuk dan malas untuk terus-terusan bersama dia. Apa lagi pacarnya sudah mulai curiga dengan hubungan kita berdua. Jadi saya memutuskan untuk menjauhi sahabat saya ini. Saya tidak mau mencari-cari masalah yang menurut saya sangat tidak keren ini. Takut nanti saya malah jatuh cinta. Saya akhirnya memutuskan untuk keluar dari zona membingungkan ini.
Setelah beberapa minggu saya menjauh sejauh-jauhnya dari dia sepertinya dia sadar. Dia mulai jarang menelfon dan sms saya. Ajakan dia untuk menjemput dan menelfon saya juga saya tolak. Singkat cerita kami pun jauh.
Beberapa semester kemudian saya dan dia bertemu lagi di tempat favorite nongkrong anak-anak kampus kita. Dia bertanya kepada saya ketika kita sedang duduk berdua. "kamu ingat gak dulu kita sedekat apa?"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar