Rabu, 20 Agustus 2014

Surat Rindu




Adik saya pernah berkata kepada saya kalau anak yang dilahirkan di keluarga yang bahagia akan menghasilkan anak yang berbahagia juga dalam menjalani hari-harinya.
Saya sangat setuju. Saya sangat menikmati hidup saya. saya sangat bahagia dengan keluarga ini.
Meski kita sering bertengkar dengan hal-hal kecil, namun pada dasarnya kita hanya “menggangu” satu sama lain supaya suasana selalu cair.
Meliat bahagi mana ayah saya mencintai ibu saya, sungguh membuat saya iri. Saya ingin kelak ada laki-laki yang mencintai saya minimal sama dengan ayah saya mencintai ibu saya.

Dear suamiku kelak, kamu harus tau kalau saya bukan tipe wanita yang gemar berdandan. Saya lebih suka memakai sesuatu yang simple dan santai. Kelak, kamu harus yakin ketika akan mengajak saya menjadi teman seumur hidup kamu. Pastikan kalau mata kamu hanya mampu menatap saya. pastikan saya percaya akan hal itu.
Saya tidak mau hidup yang singkat ini hanya dipenuhi perasaan-perasaan ketakutan akan kelihalangan kamu. Kamu juga harus yakin kalau saya, hanya mampu menatap kamu. Sungguh saya sangat benci dengan penghianatan.
Saya juga tidak peduli dengan alasan cinta yang selalu beberapa orang gembar-gemborkan sebagai alasan perselingkuhan. Penghianat tetap lah penghianat.
Sayang, mungkin kamu sekarang sedang berusaha keras menggapai impian demi membahagiakan keluarga kita kelak, atau kamu sedang bersama wanita lain sebelum menemukan saya, atau kamu sedang berjalan ke arah saya namun saya tidak tau, namun yang pasti datanglah di saat yang tepat. Disaat Tuhan mengijinkan kita bertemu. Saya? Saya masih disini menunggu kamu. Ya, kadang ditempat umum saya sering mengarahkan pandangan ke arah sana dan sini. Kenapa? Karena mungkin saja kamu adalah salah satu dari mereka. Sungguh itu bukan modus sayang. Saya benar-benar merindukan kamu. Dari mulai emat bulan dikandungan ibu sampai sekarang, rindu itu masih untuk kamu. Cepat datang ya kesayangan.

love,
istrimu kelak