Adik saya pernah berkata kepada saya kalau anak yang
dilahirkan di keluarga yang bahagia akan menghasilkan anak yang berbahagia juga
dalam menjalani hari-harinya.
Saya sangat setuju. Saya sangat menikmati hidup saya. saya
sangat bahagia dengan keluarga ini.
Meski kita sering bertengkar dengan hal-hal kecil, namun
pada dasarnya kita hanya “menggangu” satu sama lain supaya suasana selalu cair.
Meliat bahagi mana ayah saya mencintai ibu saya, sungguh
membuat saya iri. Saya ingin kelak ada laki-laki yang mencintai saya minimal
sama dengan ayah saya mencintai ibu saya.
Dear suamiku kelak, kamu harus tau kalau saya bukan tipe
wanita yang gemar berdandan. Saya lebih suka memakai sesuatu yang simple dan
santai. Kelak, kamu harus yakin ketika akan mengajak saya menjadi teman seumur
hidup kamu. Pastikan kalau mata kamu hanya mampu menatap saya. pastikan saya
percaya akan hal itu.
Saya tidak mau hidup yang singkat ini hanya dipenuhi
perasaan-perasaan ketakutan akan kelihalangan kamu. Kamu juga harus yakin kalau saya, hanya mampu menatap kamu. Sungguh saya sangat benci dengan penghianatan.
Saya juga tidak peduli dengan alasan cinta yang selalu
beberapa orang gembar-gemborkan sebagai alasan perselingkuhan. Penghianat tetap
lah penghianat.
Sayang, mungkin kamu sekarang sedang berusaha keras
menggapai impian demi membahagiakan keluarga kita kelak, atau kamu sedang
bersama wanita lain sebelum menemukan saya, atau kamu sedang berjalan ke arah saya
namun saya tidak tau, namun yang pasti datanglah di saat yang tepat. Disaat Tuhan mengijinkan kita bertemu. Saya? Saya masih disini menunggu kamu. Ya, kadang
ditempat umum saya sering mengarahkan pandangan ke arah sana dan sini. Kenapa?
Karena mungkin saja kamu adalah salah satu dari mereka. Sungguh itu bukan modus
sayang. Saya benar-benar merindukan kamu. Dari mulai emat bulan dikandungan
ibu sampai sekarang, rindu itu masih untuk kamu. Cepat datang ya kesayangan.
love,
istrimu kelak

.jpg)

.jpg)
