Rabu, 03 Oktober 2012

Baik Itu Relative


  • Saya itu bodoh. Saya menamatkan diri saya tepat ketika saya berada di semester delapan. Saya merepotkan diri saya mengerjakan skripsi hingga larut malam. Tidak, bukan larut malam. Saya mengerjakan skripsi saya hingga pagi. Bodhnya!

  • Saya itu bodoh sekali. Ketika ada dua pilihan antara cukup gampang dan sulit, saya selalu memilih sulit. iya saya tahu saya bodoh. Saya memilih hal sulit layaknya skripsi ketimbang makalah yang bisa saya kerjakan dengan hanya beberapa belas halaman.

  • Bukan hanya itu kebodohan saya. Saya juga ikut kelembagaan dalam organisasi kampus. Dengan IPK saya yang tiga lebih ini saya juga memfokuskan diri saya di sana. Saya bodoh sekali untuk bisa mendapatkan kawan-kawan baik macam mereka. Mereka bodoh sekali mau berteman dengan saya yang gagal dalam fashion dan tampang pas-pasan yang hanya pandai tertawa dan berdebat.

  • Saya itu bodoh. Ketika orang-orang macam saya asik dipermainkan pacar dan sibuk dengan semua gadged serba canggihnya. Eh saya malah memilih bergaul di tempat itu. Tempat yang membuat saya makin bodoh tentang fashion dan gaya hidup modern macam mereka.

  • Saya itu bodoh untuk terus mendapatkan orang yang sangat tulus mencintai saya. Layaknya kawan-kawan saya yang bodohnya mencintai saya bukan karena saya canti, kaya, atau apalah mereka sebut dengan Gaul. Bodoh sekali mereka ketulusan cinta mereka.





Hai kawan, kata mereka kita bodoh kawan. Kata mereka hidup itu pahit. Tidak usah sok saling membantu sesama. Hidup ini yang penting uang katanya.

Hai kawan, usaha saya membuktikan kalau orang macam kita yang kuliah sambil berorganisasi ini akan lulus lama sudah aku pecahkan kawan. Tapi kawan, kenapa mulut mereka tetap saja berbusa dan berbau busuk macam hati mereka kawan?

Hai kawan, aku ingin tahu pandangan mereka tentang dia, mahasiswa tanpa berorganisasi telat juga lulusnya kawan. Kenapa tidak ada yang mau berkomentar ya kawan?

Hai kawan, hidup macam apa ini kawan, ketika berbagi bersama dianggap bodoh?

Hai kawan, hidup macam apa ini yang isinya melulu soal uang?

Hai kawan, hidup macam apa ini ketika banyak teriakan ketidak adilan di mana-mana?

Baik itu ternyata relative kawan. Menurut kita baik, tapi orang lain bisa saja menilai kita bodoh kawan. Tidak usah tertawa kawan. Hidup memang lucu. Apalagi sekarang. Ketika uang adalah takaran sebuah harga diri berbagi tidak akan ada lagi.

Semoga kita bagian dari manusia yang lebih memilih berbagi ketimbang menumpuk harta karena urusan duniawi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar