Kamis, 02 Mei 2013

Kagum





Banyak sekali tipe manusia di muka bumi ini. salah satunya adalah tipe manusia yang gampang “suka dan kagum” seperti saya ini.

Saya gampang kagum sekali kepada orang yang bahkan baru saya kenal. Terutama yang mempunyai kelebihan melebihi apa yang saya punya.

Contohnya ketika saya menyukai laki-laki yang pandai semasa SMA. Hanya karena dia “lebih pandai” dari teman laki-laki saya yang lain, saya bisa langsung jatuh kagum.

Kemudian ketika saya kuliah. Sebagai wanita yang sangat biasa dan tidak spesial seperti saya, mengikuti beberapa kegiatan penting di kampus dan mengenal banyak orang terutama lawan jenis membuat saya sering terkagum-kagum kepada mereka. Bahkan saya sering sekali salah mengartikan kagum sebagai bagian dari jatuh cinta.

Ya, saya sering sekali salah mengatikan rasa kagum saya sebagai jatuh cinta. Sehingga terkesan saya gampang sekali jatuh cinta, padahal yang sebenarnya adalah saya gampang sekali kagum dengan orang.

Bukan hanya laki-laki saja yang gampang saya kagumi. Perempuan pun demikian. Saya sempat mengagumi beberapa teman wanita saya karena kelebihanya.

Meski demikian, banyak diantara mereka yang awalnya saya kagumi akhirnya saya cueki karena beberapa alasan.

Contohnya ketika dulu sempat mengagumi salah satu senior saya. Dia sungguh cerdas dan menghargai saya sebagai salah satu anggotanya dalam suatu organisasi. Dia sungguh bijak dan tutur katanya begitu masuk kedalam logika saya. Kemudian saya kagum.

Karena semakin lama bersamanya, saya mulai tahu sifat aslinya. Bagimana tingkahnya dan banyak hal yang kita habiskan bersama. dan akhinya saya tahu bahwa banyak hal yang akhirnya saya benci dari sifat dan tingkahnya pun dari bagaimana dia menyelesaikan masalah dalam organisasi maupun dalam hidupnya.

Benar apa kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Semakin kita kenal, kita akan semakin tahu bagaimana sifat seseorang, kemudian kita tahu apakah rasa kagum kita terhadap seseorang adalah benar pada tempatnya.

Tentu saja tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup. Dan itulah yang saya rasakan pada diri saya. Saya selalu merasa menjadi manusia yang setengah matang. Tidak mempunyai kelebihan yang dapat membuat orang kagum terhadap saya. Sehingga saya sering dan gampang terkagum-kagum terhadap orang.  Itu sering membunuh rasa percaya diri saya.

Sepanjang masa “nganggur” saya kadang berfikir bahwa saya memang hanya seonggok daging yang mempunyai ijasah. Hanya ijasah. Sehingga ketika sampai tahap wawancara kerja, orang tahu saya tidak mempunyai kelebihan yang dapat menguntungkannya.

Saat ini saya sudah bekerja di salah satu SMK di kampung saya. Teman-teman kerja saya cukup menyenangkan. Mereka semua pekerja keras. Beberapa dari mereka bekerja di lebih dari satu sekolah dan bimbel.

Mereka sama mudanya dengan saya. Hanya paling beda dua tahun diatas saya, namun perjuangan mereka sungguh membuat saya malu terhadap diri saya. Saya justru patah semangat dan pasrah atas nasib yang sedang saya jalani padahal saya lebih muda dari mereka.

Kemudian salah satu teman SD saya. Dia sering membawa saya jalan-jalan. Dia mengajak saya bertemu dengan banyak orang-orang baru dengan berbagai profesi. Saya banyak berbincang-bincang dengan mereka. Banyak hal-hal baru saya dapat. Di sana saya bukan hanya sekedar kagum kepada mereka, namun banyak sekali ilmu yang saya serap dari perbincangan-perbincangan kita. salah satunya ilmu semangat dan pantang mundur.

Atmosfer lingkungan kerja saya dan orang-orang yang baru saya temui itulah yang memotivasi saya untuk maju. Mengembalikan semangat saya atas perjuangan sebuah mimpi dan mengembalikan rasa percaya diri saya.

Tentu saja saya bukan hanya seonggok daging yang berijasah. Saya telah melewati banyak hari di padang yang tidak sesederhana coretan di ijasah saya. Saya telah berjuang satu langkah demi mimpi orang tua saya dan saya sebagi seorang sarjana.

Menjadi seorang sarjana sajakah? Tentu saja tidak. Didalam kata sarjana yang sudah saya sandang ini ada banyak mimpi di sana yang satu persatu harus saya perjuangkan. Sama seperti di padang dulu. Setelah menjadi sarjana pun hari-hari tidak akan sesederhana pakaian yang selalu saya kenakan setiap kerja. Di sana akan ada banyak air mata dan tetesan keringat perjuangan.

Kagum dengan orang yang mempunyai kelebihan lain tentu boleh, namun saya juga harus mengingat bahwa saya juga harus menghargai diri saya yang sejauh ini telah berjuang demi mimpi-mimpi orang tua saya dan saya. Dan saya tentu jangan patah semangat hanya karna lubang yang saya datangi tidak diijini masuk oleh pemiliknya. Itu motivasi yang terus saya bangun dalam setiap langkah menuju mimpi saya.

Kelak saya ingin menjadi seseorang yang diingat dan dikagumi sebagai manusia yang berhasil meraih mimpinya. Bukan hanya sebagai manusia yang kalah dan hanya bisa mengaggumi orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar