Banyak sekali tipe
manusia di muka bumi ini. salah satunya adalah tipe manusia yang gampang “suka
dan kagum” seperti saya ini.
Saya gampang kagum
sekali kepada orang yang bahkan baru saya kenal. Terutama yang mempunyai
kelebihan melebihi apa yang saya punya.
Contohnya ketika
saya menyukai laki-laki yang pandai semasa SMA. Hanya karena dia “lebih pandai”
dari teman laki-laki saya yang lain, saya bisa langsung jatuh kagum.
Kemudian ketika
saya kuliah. Sebagai wanita yang sangat biasa dan tidak spesial seperti saya,
mengikuti beberapa kegiatan penting di kampus dan mengenal banyak orang
terutama lawan jenis membuat saya sering terkagum-kagum kepada mereka. Bahkan
saya sering sekali salah mengartikan kagum sebagai bagian dari jatuh cinta.
Ya, saya sering
sekali salah mengatikan rasa kagum saya sebagai jatuh cinta. Sehingga terkesan
saya gampang sekali jatuh cinta, padahal yang sebenarnya adalah saya gampang
sekali kagum dengan orang.
Bukan hanya
laki-laki saja yang gampang saya kagumi. Perempuan pun demikian. Saya sempat
mengagumi beberapa teman wanita saya karena kelebihanya.
Meski demikian,
banyak diantara mereka yang awalnya saya kagumi akhirnya saya cueki karena
beberapa alasan.
Contohnya ketika
dulu sempat mengagumi salah satu senior saya. Dia sungguh cerdas dan menghargai
saya sebagai salah satu anggotanya dalam suatu organisasi. Dia sungguh bijak
dan tutur katanya begitu masuk kedalam logika saya. Kemudian saya kagum.
Karena semakin lama
bersamanya, saya mulai tahu sifat aslinya. Bagimana tingkahnya dan banyak hal
yang kita habiskan bersama. dan akhinya saya tahu bahwa banyak hal yang
akhirnya saya benci dari sifat dan tingkahnya pun dari bagaimana dia
menyelesaikan masalah dalam organisasi maupun dalam hidupnya.
Benar apa kata
pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Semakin kita kenal, kita akan semakin tahu
bagaimana sifat seseorang, kemudian kita tahu apakah rasa kagum kita terhadap
seseorang adalah benar pada tempatnya.
Tentu saja tidak
ada manusia yang sempurna dalam hidup. Dan itulah yang saya rasakan pada diri
saya. Saya selalu merasa menjadi manusia yang setengah matang. Tidak mempunyai
kelebihan yang dapat membuat orang kagum terhadap saya. Sehingga saya sering
dan gampang terkagum-kagum terhadap orang.
Itu sering membunuh rasa percaya diri saya.
Sepanjang masa
“nganggur” saya kadang berfikir bahwa saya memang hanya seonggok daging yang
mempunyai ijasah. Hanya ijasah. Sehingga ketika sampai tahap wawancara kerja,
orang tahu saya tidak mempunyai kelebihan yang dapat menguntungkannya.
Saat ini saya sudah
bekerja di salah satu SMK di kampung saya. Teman-teman kerja saya cukup
menyenangkan. Mereka semua pekerja keras. Beberapa dari mereka bekerja di lebih
dari satu sekolah dan bimbel.
Mereka sama mudanya
dengan saya. Hanya paling beda dua tahun diatas saya, namun perjuangan mereka
sungguh membuat saya malu terhadap diri saya. Saya justru patah semangat dan
pasrah atas nasib yang sedang saya jalani padahal saya lebih muda dari mereka.
Kemudian salah satu
teman SD saya. Dia sering membawa saya jalan-jalan. Dia
mengajak saya bertemu dengan banyak orang-orang baru dengan berbagai profesi. Saya
banyak berbincang-bincang dengan mereka. Banyak hal-hal baru saya dapat. Di
sana saya bukan hanya sekedar kagum kepada mereka, namun banyak sekali ilmu
yang saya serap dari perbincangan-perbincangan kita. salah satunya ilmu
semangat dan pantang mundur.
Atmosfer lingkungan
kerja saya dan orang-orang yang baru saya temui itulah yang memotivasi saya
untuk maju. Mengembalikan semangat saya atas perjuangan sebuah mimpi dan
mengembalikan rasa percaya diri saya.
Tentu saja saya
bukan hanya seonggok daging yang berijasah. Saya telah melewati banyak hari di
padang yang tidak sesederhana coretan di ijasah saya. Saya telah berjuang satu
langkah demi mimpi orang tua saya dan saya sebagi seorang sarjana.
Menjadi seorang
sarjana sajakah? Tentu saja tidak. Didalam kata sarjana yang sudah saya sandang
ini ada banyak mimpi di sana yang satu persatu harus saya perjuangkan. Sama
seperti di padang dulu. Setelah menjadi sarjana pun hari-hari tidak akan
sesederhana pakaian yang selalu saya kenakan setiap kerja. Di sana akan ada
banyak air mata dan tetesan keringat perjuangan.
Kagum dengan orang
yang mempunyai kelebihan lain tentu boleh, namun saya juga harus mengingat
bahwa saya juga harus menghargai diri saya yang sejauh ini telah berjuang demi
mimpi-mimpi orang tua saya dan saya. Dan saya tentu jangan patah semangat hanya
karna lubang yang saya datangi tidak diijini masuk oleh pemiliknya. Itu
motivasi yang terus saya bangun dalam setiap langkah menuju mimpi saya.
Kelak saya ingin
menjadi seseorang yang diingat dan dikagumi sebagai manusia yang berhasil
meraih mimpinya. Bukan hanya sebagai manusia yang kalah dan hanya bisa
mengaggumi orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar