Jumat, 26 Oktober 2012

Apakah Aku Kapas?


hai.... ini dua malam terakhir saya di padang.
sedih sep?
jangan tanya, semua orang tau saya sedih kok. namun hanya Tuhan dan hati saya yang tau seberapa sedihnya itu.

kamu tahu Padang?
kota yang indah di kala senjanya itu? yang sengaja aku gambarkan sebagai kota senja dalam blog ini? pada akhirnya saya harus meninggalkannya. meninggalkannya demi sepenggal cita-cita yang terus meraung dalam hati dan angan saya. mereka terus berontak untuk secepatnya ditangani.

saya meninggalkan banyak hal di sini. banyak sekali. namun saya juga membawa banyak hal lain yang tidak kalah berharganya.

saya meninggalkan saudara, sahabat, teman dan banyak tempat sederhanya yg selalu membuat saya setiap hari jatuh cinta.
namun saya juga membawa banyak sekali cinta, pengalaman hidup dan tali persaudaraan yang membelit saya dengan kebahagiaan.

akankah saudara dan teman-teman saya "yang di sana" percaya tetang cerita empat tahun yang saya alami ini? mungkin sebagian iya, dan sebagian lagi tidak. namun apa peduli...

sebagai ucapan terimakasih untuk beberapa orang yang telah ada telah mempercayai saya sebagai saudara, sahabat dan teman mereka saya akan menggambarkan perjalanan saya kepda kalian lewat puisi yang saya buat khusus untuk kalian yang tersayang,

apakah aku kapas?

laksana kapas yang terbang tertiup angin,
aku terus mengikuti hembusan angin yang terus menerbangkanku,
kemudian aku terdampar di sini...
di kota yang senjanya jingga ini..

aku berubah menjadi batu..
keras melawan takdir yang sudah tuhan jatuhkan untukku...

bukan kah melawan tuhan adalah hal yang konyol?
aku mulai ingat, harapan harus selalu ada...
cinta harus tumbuh..
baru lah kebahagiaan akan datang dengan segala keajaibannya.

aku mengenal mereka..
berbagi apapun keanehan dunia...
mereka menerimaku sebagai apapun aku..

cinta ini tumbuh mengakar dalam jantung...
bernafas bersama jiwa yang ingin terus hidup...
hingga pada suatu saat aku sadar kalau pada akhirnya harus berubah menjadi kapas lagi..
diterbangkan dengantakdir-takdir tuhan yang meniupkan lewat harapan yang dulu aku sematkan dalam sepucuk doa..

5 komentar: