Minggu, 25 Desember 2011

kacau dan galau

tengah malam yang membuatku galau karena susah memejamkan mata. yah, tengah malam yang sepi dengan mata yang sulit terpejam sangat berpotensi untuk "galau". menulis di blog tercinta dengan ditemani sekaleng kopi instan dan lagu Shandi featuring Donne "untuk siapa"semakin membuat perasaan terbawa kisah-kisah masa lalu yang perih untuk dirasakan kembali.

cinta yang tak terbalas selalu saja membuat kita hancur, apa lagi tahu bahwa orang yang kita tunjuk untuk memegang hati kita adalah orang yang sama sekali tidak peduli tentang kita, tentang hati kita, tentang cinta kita untuknya.

semua orang berhak mencintai siapapun, oleh karena itu siapapun berhak menolak cinta yang diberikan. adil bukan?

semua orang berhak mencintai orang lain kan. dengan syarat tidak merugkan orang yang kita cinta. kita tentu berharap orang yang kita cintai akan selamanya bahagia dalam hidupnya. amin

orang yang selalu merasa hebat dengan logikanya atau keras kepala dengan egonya tentu tidak akan mengalah dengan cinta. dia akan terus membunuh rasa cinta demi melindungi hatinya yang akan remuk. namun, orang yang mempunya "Cinta" dia akan lapang dada dengan resiko yang dia ambil, karena dia tahu rasa yang diberikan cinta akan sebanding dengan rasa sakit yang ia akan dapat. ia tahu untuk mencintai seseorang dibutuhkan pengorbanan, berkorpan tentang waktu yang akan tersita untuk memikirkanya, berkorban uang jajan untuk membeli pulsa hanya sekedar untuk menyapanya walau kadang tak terbalas, berkorban perasaan saat dia lebih memilih sahabatmu dibandingkan kamu, berkorban separuh jiwamu yang sengaja kau bakar agar untuk melihatnya tersenyum dengan curhata hatinya untuk sahabatmu, dan anehnya kau akan terus berkorban hanya untuk dirinya bahagia.

orang dengan cinta yang terbals atau mereka yang memprotect dirinya dengan mantel anti patah hati akan berfikiran kita ini malang, kita ini bodoh. namun, itu lah orang yang belum mengenal cinta sejujurnya bukan?

aku mencintai dia yang tidak mencintaiku. aku mencintainya lebih kurang 4 tahun, semenjak aku SMA hingga menjadi mahasiswa tingkat akhir sepeti sekarang ini. aku mencintai dia yang mencintai sahabatku. aku mencintai dia yang selalu TIDAK memperdulikan aku dan perasaanku. aku mencintai dia yang tidak mungkin aku gapai. aku mencintai dia yang selalu membuatku menangis getir di tengah malam.

aku mencintai dia yang membuatku pergi sejauh ini.




Jumat, 16 Desember 2011

untuk bidadari di surga

kemarin malam aku sengaja membuka facebook kakak kelasku di SMA. Kita memanggilnya mba Umi. Dia gadis cantik dengan kerudung yang selalu rapi menutup auratnya. Sikapnya sangat ramah, murah senyum, dan penuh talenta. Namun sayang, gadis sebaik itu harus pulang ke pada sang pencipnta secepat itu. di tanggal dua belas september lalu dia meninggal dalam kecelakaan. yang aku dengar dia korban tabrak lari.

mungkin memang benar kata sebagian orang kalau orang baik akan segera di panggil oleh sang maha kuasa dengan cepat. semoga memang begitu, dan mba umi benar-benar sedang bahagia di alam sana. Amin.

aku membaca pesan-pesan di wall mba umi satu persatatu. membaca setiap doa orang-orang yang menyayangi mba umi. orang-orang yang merasa sangat kehilangan dengan kepergiannya. orang-orang yang tau dengan persis seberapa baik dan sholehnya mba umi.

ini bukan pertama kalinya aku membaca pesan-pesan di wall seorang almarhum atau pun almarhumah. yah, walaupun aku belum tentu kenal dekat dengan mereka, aku selalu saja penasaran dengan "kematian". selalu ingin tau ada apa di balik misteri kematian, atau sekedar tanda-tanda mereka akan pergi jauh meninggalkan kita.

aku baca dan baca. kemudian aku baca lagi dan lagi.

subhanAllah, dia memang benar-benar gadis yang beruntung. dalam hidupnya yang tidak sepanjang yang ia harapkan, dia telah meninggalkan sejuta kebaikan dan kebahagiaan hingga orang selalu mengingat dan berkata tentang kebaikannya.

sholat tepat waktu, tidak lupa melakukan sholah, selalu sedih ketika meninggalkan sholat duha, selalu merasa kosong ketika sehari saja tidak membaca Al-quran dan yang selalu aku ingat adalah tutur katanya yang lembut dan sikapnya yang selalu sopan. keceriaan dan senyumnya selalu saja menjadi mentari yang menghangatkan hati kita.



Sabtu, 03 Desember 2011

Lorong Kosong


#Bagian 1
Clara selalu saja bisa membawa suasana menjadi ramai, asik dan seru untuk menikmati hidup yang kadang membosankan. Dia gadis periang dan cerdas. Tak heran, dia mempunyai banyak teman yang setiap saat mengelilinginya.

Entah gadis macam apa dia hingga orang selalu saja menilainya tak punya masalah. Setiap orang yang mengenalnya selalu terkesan dengan hidupnya yang dipenuhi tawa. Fikiran konyol, gaya bicara, dan tingkah lakunya selalu saja menjadi sorotan. Kadang ada beberapa teman yang tidak suka dengan itu, namun Clara tetap saja melakukan apa yang dia suka.
Pernah salah satu teman menegurnya karena terlampau tertawa keras dan bercanda yang kelewat batas. Kritikan tajam pun bertubi-tubi ia berikan pada gadis periang ini, segala hadis dikeluarkannya untuk mematahkan semua jawaban yang diberikan Clara untuk setiap kritikannya. Namun pada akhirnya dia harus diam, karena berdebat dengan Clara sama artinya mengurangi kebahagiaan hidup. Clara tidak akan pernah mengalah. Bukan karena sombong, itu lebih kepada tidak mau dibodoh-bodohi. Clara tidak akan mengalah jika suatu pernyataan tak bisa mengalahkan logikanya. Kemudian kau hanya akan merasa rasa dongkol mendapati kekalahanmu.

Logika yang dia pakai bukan untuk matematika. Dia benci matematika. Dia suka sejarah, sastra dan hal lain yang berbau musim gugur. Dia suka kelembutan dan hal lain semacam angin, hujan, dan bintang. Tapi ia benci bulan. Bulan selalu menggambarkan nenek sihir seperti dongeng yang kerap ia dengar dari cerita-cerita neneknya.

Seperti biasa, bosan selalu saja membunuh setiap senti saraf-saraf di otak dan Clara benci itu. Dia mulai berfikir tentang hal yang menyenangkan. Mungkin suatu permainan akan seru jika sedikit berbahaya dan memalukan. senyum nakal dia lemparkan kepada teman-temannya yang sedang sibuk dengan laptop. 

Hoy....aku ada ide nih..!! seru Clara. Teman-temannya menatap aneh, dengan mata menciut curiga.

Ide apa? tanya Mila. Jangan yang aneh-aneh lah... sekali-kali jadi normal ngapa. tegas Dira memastikan Clara tidak akan berbuat hal gila.

hehehehehhee..... tau aja nih si mila... bapak kamu tukang......

bukan..!! jawab Dira mendahului pertanyaan Clara yang belum selesai. 
langsung aja lah ra mau apa. pinta Vani tak sabar. 

Iya.. iya... iya...... sabar dong teman-temanku sayang... aku gak suka ya kalo teman aku bertengkar... bertengkar itu gak baik... aku sedih kalo kaya gitu jadinya..........

Ah... mulai lagi deh gilanya. udah deh buruan ide apa?! tanya Serra nyolot. Tapi yang seru ya, Bosan juga nih duduk gini doang.

Hujan memang sudah dari pagi mengguyur kota Padang. Orang akan lebih memilih menarik selimutnya tinggi-tinggi di kamar ketimbang beraktifitas di luar, namun karena kewajiban berangkat kuliah pagi ini Clara, Mila, Vani, Dira dan Serra sudah dari pagi di kampus. Nilai akan terancam hanya karena absen. Mereka tidak akan mempertaruhkan itu. Namun sialnya, si dosen sendiri yang absen pagi ini. Tidak ada pilihan lain di hari yang becek ini selain nongkrong di kampus dari pada kehujanan di luar sana. Kemudia harus mati kebosanan menunggu jam berikutnya pukul tigga. 

Gini nih... mau gak main yang seru??? tapi sedikit seram sih. tanya Clara pada ke tigga temannya.

Emang mau main apa sih?? kok pake acara seram-seraman segala?? tanya Serra balik.

Main jaelangkung. bisik Clara pada kempat temannya yang sudah menatapnya penasaran.

Ih gila kali kamu ya ra, gak ah entar ujung-ujungnya kita mati semua kaya yang di film-film, Tolak Mira cepat.

Ya gak lah Mira sayang.. itu kan di TV... yang di TV itu semuanya bohong. Acara Uya Kuya aja itu bohong tahu. Mana ada sih orang yang mau buka aib sendiri di depan umum, terus ada lagi tuh acara Mermehek-mehek. Kenapa gak lapor polisi aja kalo ada keluarga yang hilang. Udah deh jangan parno gitu, parno itu gak boleh. Entar kena tangkep kaya Ariel peterpan. Vani dan Serra tertawa keras dan Mira cuma bingung dengan jawaban Clara. 

Siapa setuju kita main jaelangkung? tanya Clara serius.

Aku ikut, jawab Serra dan Dira.

Aku juga, lanjut Vani.

Ya udah deh aku ikut, tapi aku telfon mama dulu ya?

Heeewww.... dasar anak mamihh...!! apa-apa ijin sama mama. Emang kita mau nikah? pake acara minta restu segala. jawab Clara kesal. jadi ikut gak mil?? tanya Clara lagi.

Iya jadi... tapi Clara jangan melotot ke Mila dong... Mila takut...

Iya Mila sayang... Clara gak melotot kok... Clara cuma pingin makan Mila aja... jawab Clara menahan keki.

Jadi setuju semua nih ya kita main jaelangkung! Permainan ini beda banget sama yang ada di TV. Aku dapat cara bermain jaelakung ini dari nenekku. Aku ngajak kalian main jaelangkung karena suasananya pas banget buat kita ngundang arwah-arwah yang tersesat di gedung pustaka ini. Konon, dulu ada beberapa orang yang sengaja bunuh diri di gedung ini. Kata beberapa orang yang sering jaga malam di sekitar gedung, mereka kerap mendengar dan melihat hal-hal aneh. Aku penasaran dengan hal itu dan kalian juga merasakan hal yang sama kan sekarang? pingin tahu... seberapa bejat sih orang-orang disini. Clara tersenyum kecut.





Jumat, 02 Desember 2011

Just Nothing

Aku anak kampung. Tapi aku tak mau dibilang kampungan. Kata kampungan selalu saja mengesankan kita pada sisi negatif. Pada sisi di mana kita berasal dari lingkungan yang bodoh, norak dan jauh dari kata modern. Tapi untuk disebut anak kota pun aku enggan. Anak kota selalu diidentikan dengan kesombongan, hura-hura dan pergaulan bebas. Mungkin tidak semua berpandangan seperti itu, tapi kebanyakan dari meraka berfikit demikian. 

Aku adalah aku, bukan yang kau fikirkan ataupun yang mereka katakan tentang aku.

aku terlahir dari keluarga sederhana, bahkan sangat sederhana untuk digambarkan dari hidup yang berkecukupan. Aku pernah harus berbagi sebutir telor rebus dengan tiga saudaraku. bahkan nasi putih dan garam pun akan menjadi sarapan pagi yang lezat ketika bapak belum pulang dari jualan kayu bakar. 

bapaku bukan orang yang "bersekolah tinggi" dengan deretan tittle di nama depan dan belakangnya. yah, bapaku bukan orang yang berpendidikan tinggi, namun dia tidak BODOH seperti orang-orang yang menilai tukang becak adalah profesi yang rendah dan menjadi percontohan orang-orang yang tak sukses. Aku masih heran kenapa tukang becak diidentikan dengan orang yang gagal. aku juga heran kenapa orang berdasi lebih dihormati dari pada orang yang membawa cangkul dan menanam padi di sawah. Penampilan fisik memang selalu saja menjadi daya tarik mata menilai suatu hal. dan itu lah sewajarnya manusia. 

Bapak mempunyai banyak cerita tentang pewayangan. Cerita pandhawa lima selalu saja menjadi sukaanku.di sana bercerita tentang kerajaannya yang makmur karena rajanya bijaksana. Tentang seseorang yang tamak akan kekuasaan. Tentang perjuangan mendapatkan kekuasaan dengan jalan sesat dan tentang kelapangan hati pendhawalima merelakan kerajaannya. pada akhirnya semua berakhir bahagia. Seorang anak raja akan tetap menjadi raja. Pandhawa lima mendapatkan kerajaan lain. Kerajaan yang lebih besar, lebih mempunyai kekuasaan dari kerajaan sebelumnya.

cerita-cerita bapak selalu saja menghayalkanku tentang sebuah kerajaan tentunya. Aku berkhayal aku adalah anak raja. Berkhayal bapak adalah anak raja yang tidak suka tinggal di istana. Anak raja yang pada akhirnya harus kembali ke istana untuk meneruskan tahta ayahnya. Tapi STOP, itu semua hanya imajenasimu. Imajenasimu yang selalu melewati batas kebodohanmu. imajenasimu yang selalu kau simpan karena semua orang akan mencemoohmu tentang mimpi-mimpimu itu.
yah, aku sadar. Ini lah realita. Sekarang bukan zaman pandhawa lima yang masih menggunakan kemben untuk baju-bajunya dan sihir sebagai senjatanya. sekarang era tekhnologi. semua bisa dilakukan dengan mesin. sudah tak lagi kontak batin yang ada kontak handphone. sudah tak ada lagi karpet terbang, yang ada pesawat terbang. dan untuk hidupku sendiri, sudah tidak ada lagi kerajaan atau pun warisan kakeku untuk bapakku. karena si mbah sudah wafat dua belas tahun yang lalu. saatnya bangun dari tidurmu, dari mimpi-mimpimu. Buka mata dan lihat realita.