Sabtu, 22 Desember 2012

Renungan (?)



Kali ini gue mau ngebahas, eh bukan ngebahas juga sih. Gue mau cerita tentang “hubungan”.
 
Hubungan yang masih berkaitan dengan cinta (?) 

Ok gue mau jujur. Beberapa minggu belakangan, gue ada “project”. Masih berkaitan dengan perasaan, yang “sulit” untuk gue bilang “ini cinta” atau pun “ini bukan cinta”. Iya ini ribet banget. Serius.
Tapi bagusnya adalah, sekarang gue “masih sendiri” namun gak sendirian juga, soalnya masih ada Tuhan dan orang-orang yang sangat ikhlas menyayangi gue. (?)

Iya, semuanya mengalir, bermuara dan habis begitu saja.

Kalau ditanya sedih atau enggak, saya hanya bisa member jawaban dengan tatapan kosong. Kemudian gue merasa, meraba dan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan gue sekarang. Dan gak nemu. Sial.

Huh..!! lagi-lagi ribet yah! LOL

Dan yang gue simpulkan dari keribetan beberapa minggu belakangan adalah gue kelewat labil sebagai pengangguran yang sedang mencari kerja. Kelewat labil mencari-cari dan meminta-minta perhatian yang jelas-jelas hatinya itu bukan buat gue. #jlep #hatiberdarah-darah #tepar
coba minta di sayang sama Tuhan, pasti langsung dapet.

Hikmah yang diambil :
1.       jangan ngarep bakalan dijadikan pacar hanya karena dia panggil kamu dengan sayang, yang panggil papi mami aja bisa cerai.
2.       Nganggur itu bukan alasan kamu buat “nyiptain” pekerjaanmu sendiri dengan bermain-main dengan hati. Yang namanya main sama hati itu, sakitnya di dalam. Tapi membawa dampak keluar. Seperti keluar air mata, keluar tweet-tweet sok puitis memelas dan yang paling merugikan adalah keluar banyak uang buat isi paketan internet. Mana sekarang lagi nganggur. Hadeh.

Gue rasa cukup sudah kupasan ceita “hubungan” yang menyangkut hidup gue ini. Selanjutnya gue mau nyritain tentang sahabat gue. Masih dengan topic yang sama.



Beberapa kali gue ngetweet tentang “nemenin sahabat nyiapin weddingnya”. Itu beneran dan serius!
She has no close friend except me. Dia udah gak punya ibu (ragu). Dan dia sangat dewasa untuk wanita semuruan dia. Seumuruan gue juga ding, soalnya kita beda satu bulan doing, tuaan dia sebulan. :P

Dia mau nikah sama laki-laki yang umurnya jauh di atas dia. Dia ternyata duda beranak satu yang sekarang anaknya itu udah SMA. Mengenai hal ini gak banyak orang yang tahu, termasuk eyangnya. Gila.

Gue udah tahu tentang ini udah lama. Cuma waktu itu gue masih di padang dan gak enak juga kalau gue nelfon dia terus ujung-ujungnya nanyanin “eh, calon suami kamu katanya duda yah?”. Itu bukan gue banget. Gue maunya dia (sahabat gue) cerita sendiri ke gue.

Dan setelah lebih dari sebulan gue di rumah, tiga hari sebelum pernikahannya. Tepatnya tadi siang, sekitar jam sepuluh, di kamarnya, dia bilang ke gue kalau calon suaminya itu duda.

Gue pura-pura kaget. Mata gue melotot dan gak berkedip natap dia. Lama, sekitar tigga menitan.
Ekspresi gue Itu udah kelihatan belum kalau gue kaget? Semoga udah yah, soalnya gue udah nyapin jauh-jauh hari banget tuh ekspresi kaget kalau kalau sahabat gue itu cerita sejujur-jujurnya ke gue.

“Masa?”

“Terus gimana?”

“Kok bisa?” Gue nayanya pura-pura bego banget. Kaya anak SMP yang baru ngenal pacaran.

Habis itu dia ngejelasin, bla, bla, bla bla.

Banyak yang dia jelasin. Tentang rasa kasihan dia, rasa bersalah nantinya karena udah banyak hutang budi, dan masih banyak rasa ini itu yang dia pertimbangkan. Termasuk pertimbangan omongan tentangga pastinya. Huh..!

Herannya, setiap gue tanya “kamu cinta gak sih sama dia?” dia pasti Cuma jawab “gak tahu lah, jalani aja.”

So, gue sebagai sahabat yang baik akhirnya memberikan wejangan kepada calon mempelai wanita. (sumpah aneh banget jomblo yang gagak terus dalam cinta ngasih wejangan buat calon pengantin).

Ini isi wejangan gue:

“ya udah lah, Tuhan itu maha baik. Dia maha tahu segala yang paling baik buat umatnya. Dia maha penyayang. Apalagi dengan hambanya yang ta’at kaya kamu. Tuhan sangat dan benar-benar tahu, bagai mana sebaiknya hidupmu berjalan. Syukuri aja apa yang menjadi rizkimu, insyaallah Tuhan akan menambahkan nikhmatNya.”

Waktu itu otak gue lagi rada bener. Soalnyan lagi ada tawaran kerjaan, jadi mau bertingkah yang Tuhan suka. Biar bisa dapetin apa yang gue mau. Amin

Gue simpulin dari dari jawaban-jawaban yang sabat gue  kasih adalah bahwa cinta itu macam bentuknya. Bukan urusan soal cantik, kaya dan bujang saja. Tapi lebih dari itu. Cinta adalah masalah hati. Rasa kasih yang sahabat gue miliki, yang campur aduk itu juga adalah bentuk cinta. Yang walaupun ditanya cinta apa enggak di malah kebinguan. Itu tetap lah cinta. Cinta itu banyak komponennya. begitu menurut gue.

Tapi jangan percaya-percaya amat sama kata-kata gue sih, gue itu sesat. percaya aja sama hati kalian dan pemikiran kalian. Tapi yang jelas percaya sama Tuhan sih. J

Hikmah yang bisa diambil:
1.       Kamu percaya Tuhan? Dia maha baik. Maka jadilah orang baik niscaya Tuhan akan senantiasa memeluk kamu.
2.       Cerita cinta yang indah, gaul dan keren itu Cuma ada di FTV. Namun, cerita yang paling perfect ya Cuma cerita cinta yang Tuhan buat untuk kita. Di sana warna-warninya berasa banget. Dan permainan emosinya ngena banget.
3.       Punya sahabat yang keren ya sahabat kaya gue, yang bisanya Cuma ngebantuin ngabisin makanan dan dan kue-kue buat acara akad nikah besok. J

Nah itu cerita sahabat gue. Berikutnya adalah  tentang temen SMA gue. 

Ini cerita tentang “hubunguan” yang menyebabkan orang jadi “gila”. Dia itu cowok yang popular di SMA gue. Dia lucu dan “nakal”. Begitu lah kata beberapa orang. Kalo kata gue mah biasa aja, itu mah orang cari perhatian. 

Ok, karena dia popular, dia juga pacaran sama cewek popular di SMA gue. Masih satu angkatan juga. Dulu malah tuh cewek sempet deket sama gue. Bukan, bukan deket yang pacaran. Kita rada deket temenannya. 

Hih..!! curiga aja kalau gue ini lesbi. Gue jomblo tapi normal kok!

Ok, lanjut.

Karena hubungan mereka (hampir) kandas. Jadi si cowok ini gak terima gitu lah. Nah, tanpa fikir panjang dan mungkin sudah kehabisan akal buat memperbaiki hubungan, si cowok ini menyengajakan diri ditabrak truck. Bahasa gaulnya “bunuh diri”. Beruntung, yang parah itu jari-jarinya doing. Jadi sekarang jari-jarinya rada gimana gitu lah. 

Akibat aksi negatnya itu, dia balikan lagi sama si cewek.

Sekitar setahun yang lalau gue dapet pernyataan langsung dari si cewek, kalau mereka baru saja bubaran. Si cewek kecea banget.

Gak lama, gue tahu kalau temen gue itu (cowok) udah dapet pacar baru. Cantik. Seperti biasa he knows the beautiful girl that can company him to the kondangan. 

Mereka pacaran. Pasang PP berduaan dan update setatus khas orang kasmaran.
Eh, mala mini. Iya mala mini, facebook gue penuh dengan updetan status dia tentang keinginan mati,  keinginan bunuh diri lagi kalau si cewek tetep gak mau peduliin dia. Dia ngancam gak mau ngampus dan ngikutin kuliah. Ngancem mau bunuh diri gitu deh pokoknya kaya dulu pas SMA.

Itu cinta yah? Beneran cinta tuh? Kok bikin orang jadi gak waras gitu yah? Gak takut dosa, gak takut Tuhan bakalan marah gitu yah?

Nih yah, cinta yang baik adalah cinta yang membawamu pada kebaikan. 



Do you think that suicide is the best way to solve your problem dude?

Kalau iya, ya udah sono bunuh diri. Tapi kayaknya gak ada bunuh diri yang gak sakit. Dan akan lebih sakit nanti diakhirat. 

Kesimpulan: otak temen gue itu jongkok.
 
Hikmah yang bisa diambil:
1.       Bercermin lah. Tanya pada diri kamu dalam-dalam. Apa yang menyebabkan orang lain meninggalkanmu. Kemudian perbaiki diri selagi belum terlamat kehilangan mereka yang tersayang.
2.       Tuhan itu ada di mana-mana. Kamu yang kerap lupa, kalau Tuhan itu ada.
3.       Kamu kepanasan gak pas matahai terik? Neraka bukan apa-apanya.
4.       Bunuh diri boleh aja, tapi jangan bikin orang jadi celaka juga. Kasihan yang jadi supir truck. Bakalan berurusan sama polisi dan bosnya.
5.       Kalau mau biar pesannya dibaca sama doi, jangan di FB di tulis. Coba kamu datengin rumahnya. Tulis tuh di tembok-tembok rumahnya. Biar jelas. Dan pasti kebaca sama dia dan keluarganya.



Sekian dari gue yang lagi melek karena habis satu gelas kopi mala mini. Oh iya FYI aja kopinya enak sekali. Rasanya pahit. Sama kaya pas kamu ninggalin aku. #kemudian curhat #klimak
See you in the next post J







Kamis, 20 Desember 2012

Sederhana = Bahagia



Apa yang paling kamu rindukan dari masa kecilmu? Kalau saya banyak sekali. Diantara banyak itu ada salah satu hal yang benar-benar sangat saya rindukan.
Sederhana. S-E-D-E-R-H-A-N-A. bukan nama rumah makan padang yang tersohor itu. Tidak ada kaitannya sama sekali.
Kesederhanaan adalah hal yang benar-benar saya rindukan.
Dulu, saya mudah sekali tersenyum bahagia dengan alasan-alasan yang sederhana. Hanya karena gelembung-gelembung sabun, senyum saya seketika merekah karenanya. Bahkan, fakta bunga sepatu bisa membuat sepatu kulit lebih mengkilap saja sudah cukup membuat saya tertawa terkagum-kagum.
Di jaman semuanya serba sederhana, saya mendapatkan sahabat dengan cara yang sederhana juga. Dia menyayangi saya bukan karena saya pandai berhitung, padai tertawa, pandai melawak atau semua hal yang kamu kira sebagai kelebihan yang pantas untuk menjadikan saya sahabatmu. Dia memilih saya karena saya adalah apa adanya saya. Saya yang tidak bisa diam. Saya yang gampang sekali nangis hanya karena melihat ulat dan cacing. Saya yang kerap memaksa kalau berkehendak. Dan banyak tentang saya yang sebagian kamu juga tahu.
Saya juga mensyukuri lauk-lauk yang serba sederhana yang ibu saya buat. mau membaginya dengan kakak saya. Dan tidak segan juga membaginya dengan Firman, anak yatim piatu yang kerap mama saya ajak makan dan mandi di rumah saya.
Saya belum tahu model-model baju apa saja yang terbaik. Yang saya tahu adalah ibu saya kerap menjahitkan baju-baju berpita unuk saya. Bliau berharap anaknya ini mau menggunakan pakaian yang sesuai dengan keinginannya. Bliau tahu persis baju semacamnya tidak sesuai dengan hobi saya “Memanjat pohon” namun, dia ingin melihat saya tampak ayu.
Orang dewasa memang ribet yah?
Pikiran saya masih sangat sederhana. Yang saya suka adalah cukup memakai kaos dan celanya yang banyak sakunya. Sehingga cukup untuk membawa uang jajan, makanan dan benda-benda yang nanti saya temukan ketika main.
Saya tidak berfikir sama sekali dengan pujian orang yang mengatakan “ cantik” atau “bagus”. Yang saya tahu, saya cukup bahagia hari ini. Dengan pakaian kotor dan kulit hitam terbakar sinar matahari karena main seharian di luar rumah. Sangat bahagia.
Namun, bagaimana pun juga mesin waktu itu tidak ada. Kita tidak mungkin akan bisa kembali ke masa di mana kita berkehendak. Yang kita perlu sekarang hanya lah bersyukur.
Bersyukur dengan apa yang sudah kita dapat. Memahami nikhmat Tuhan yang tak pernah berhenti mengalir meski kita kerap nakal kepadaNya.
Bila pun kita ingin bahagia seperti dulu saat masih kecil. Kita hanya perlu menyederhana kana apa pun menjadi rasa syukur. Cukup kan rasa sedih kita dengan cukup bahagia.
Kita terlalu ribet dan takut dengan apa yang akan terjadi. Mungkin saja kita lupa, di setiap langkah ada mata Tuhan yang setia memperhatikan kita. Ada tangan Tuhan yang siap menolong dan membelai kita di setiap kesusahan dan kesedihan.
Akhir-akhir ini saya mulai belajar tersenyum dengan hal-hal sederhana lagi. Seperti membuat perahu kertas bersama dua keponakan saya. Kemudian bersama-sama meletakannya di selokan depan rumah. Berseru meneriakan kapal kertas kita masing-masing.
Saya tidak ingin menjadi manusia yang untuk bahagia saja membutuhkan 1000 alasan. yah, saya tidak ingin menjadi mereka yang kerap menciptakan kesedihannya sendiri dengan banyak mengeluh.


Rabu, 19 Desember 2012

Sayang (?)



Nama adalah doa. Di setiap nama kita di sebut, saat itu juga doa akan langsung terbang menuju langit. Di mana di sana Tuhan tinggal, memperhatikan kita. Itu sebabnya orang tua selalu sibuk mencari nama yang paling bagus untuk anaknya.
Bayang kan, berapa kali nama kita di sebut semenjak lahir? Sebanyak itu juga harapan dan doa orang tua kita terucap untuk kita. Hal ini mengingatkan saya tentang sebuah kisah di Planet Pink. Di sana semua manusia bernama sayang. Tidak ada nama lain selain nama sayang.
Kalian tahu kenapa semua manusia yang tinggal di sana bernama sayang? Karena mereka sangat percaya kalau setiap nama adalah doa.
Manusia-manusia yang tinggal di panet Pink, dulunya adalah manusia yang tinggal di bumi seperti kita. Namun, ketika di bumi telah banyak kejahatan dan saling menyakiti sesama, mereka pun sepakat untuk pindah selamanya ke sana.
Mereka mempunyai satu harapan yang sama, sehingga sebelum mereka pergi ke planet Pink mereka sudah sepakat untuk beberapa hal.
Yang pertama adalah semua manusia yang ingin tinggal di panet Pink harus mengganti namanya menjadi sayang. Dengan demikian mereka berharap di setiap kata sayang yang terucap, kasih sayang akan terus ada di panet pink.
Yang ke dua, di panet tidak ada rasa yang melebih rasa sayang. Mereka tidak mengenal cinta. Karena bagi mereka, rasa cinta hanya akan menimbulkan rasa kesakit hatian, egois dan serakah. Mereka memandang rasa cinta yang manusia bumi miliki, adalah penyebab banyaknya orang saling menyakiti untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Yang ke tiga adalah tidak ada yang mempunyai hubungan melebihi pertemanan. Sehingga semua orang diberikan perhatian dan porsi perasaan sayang yang sama. Tidak ada rasa iri dan cemburu.
Setiap manusia yang tinggal di panet Pink di perbolehkan mengunjungi bumi tidak lebih dari tujuh hari dalam sepuluh tahun.
Bagi mereka yang melanggar aturan, tidak diperbolehkan lagi tinggal di panet Pink.
Setelah mereka sepakat dengan perjanjian itu, beberpa orang membatal kan rencana mereka untuk pindah ke sana. Namun, banyak dari mereka yang tetep memutuskan untuk pindah. Termasuk keluargamu dan keluargaku.
Kamu tahu dulu nama kita siapa? Ayahku bilang namaku adalah Tara dan namamu adalah Nandho. Kita sudah bersahabat semenjak kecil. Kau tanya kenapa? Tentu saja karena ayah kita sama-sama tentara di bumi.
Tentara adalah prajurit penjaga. Di panet pink ayah kita selalu menjaga semua hal yang menyangkut keselamatan kita di panet pink. Tugas tentara di bumi tidak jauh berbeda dari itu.
Tak penting nama kita siapa dulunya. Yang jelas nama kita sayang. Kamu sayang dan aku sayang.
Syarat kita boleh tinggal di planet ini adalah kita tidak boleh ada rasa saling cinta, kita hanya boleh mempunyai rasa sayang. Sayang yang adil untuk semuanya.
Sepertinya aku sudah melanggarnya.
Kamu tahu persis aku selalu mempunyai sayang yang lebih kepadamu. Aku selalu memberikan perhatianku hanya kepadamu. Ah, kamu pasti sudah tahu itu.
Setiap bermain di taman Keceriaan, diam-diam aku memperhatikan tingkahmu. Cemburu dan marah ketika kamu mulai asik bermain dengan yang lain selain aku.
Kamu selalu meledekku. Senang benar kamu melihatku marah. Sikap acuhmu semakin membuatku takut kamu akan merasa lebih bahagia bermain dengan yang lain. Secemburu itu pun aku harus tetap menahannya.
Kamu tahu apa yang paling menyenangkan dari semuanya? Ketika raja planet pink menyuruh kita turun ke bumi untuk pertama kali.
Selain aku penasaran dengan planet bumi, hal yang lebih membahagiakan hatiku adalah aku satu kelompok denganmu. Iya, kita berdua satu kelompok.
Ketika pertama kali kita sampai di bumi, kamu begitu takjub melihat apa yg ada di bumi. Aku sendiri takjub, namun satu perjalanan denganmu lebih membuatku takjub.
Kamu begitu menyukai hobi manusia-manusia di bumi. Kamu suka photography, traveling, musik dan masih banyak hal lain yang kamu nikmati di bumi. Aku? Aku masih sama. Aku masih dengan hobiku merangkai kata untukmu. Kata yang aku tulis dengan hati dan tak pernah kau sempat kan untuk membaca barang sejenak. Tak apa, aku tak mengeluhkan itu.
Waktu enam hari di bumi tentu saja tak cukup untuk kamu menikmati segalanya. Kamu yang selalu ingin bisa segalanya dan ingin tahu segalanya, tinggal di bumi tentu sangat mengasikan.
Kita pulang satu jam telat dari ijin yang diberikan raja. Dia murka besar. Aku sungguh sangat takut, namun kamu justru sangat gembira. Aku melihat senyum kegembiraan di bibirmu saat sang raja mengancam mengusir kita dari planet Pink.
Setiap harinya kamu hanya bisa melamun, murung dan marah-marah. Setiap aku tanya kenapa, kamu tidak pernah menjawab. Aku tahu kamu sedang menahan inginmu tinggal di bumi.
Diam-diam aku mencuri surat ijin turun ke bumi saat raja menyuruhku membersihkan laci-laci di ruang kerjanya. Aku berikan kepadamu, kamu begitu gembira saat itu. Kamu mencium keningku, aku merasa seisi dunia pun rela aku curi dari tangan tuhan untukmu.
Ketika menunggumu pulang, aku terus-terusan memandangi alarm planet Pink. Semua yang datang terlambat ke planet ini, alarm akan otomatis berbunyi. Aku tidak menghawatirkan keselamatanku, aku lebih menghawatirkan hukuman yang akan menimpamu.
Aku sungguh sangat bersyukur, kamu tak sempat membuat alarm itu berbunyi. Namun, siapa kamu sehingga setiap kali mengambil keputusan jantungku hampir lepas karenanya?
Kamu membuat heboh sesisi planet. Kamu ingin selamanya tinggal di bumi. Kamu ingin meninggalkan ku selamanya.Sungguh hatiku remuk karenanya.
Apa hebatnya bumi?
Setiap kali aku menyanyakan itu pada diriku, jawabannya adalah kamu. Di bumi ada kamu, dan di sana aku pasti akan bahagia.
Ayahku pasti tidak akan mengizinkaku ikut bersamamu. Oleh karena itu, dua hari kepergianmu aku pustuskan. Bumi adalah tempamu dan tempatku tinggal.
Bagaimana aku tidak sakit sejadi-jadinya. Di sana aku menemukanmu dengan kesukaanmu yang lain. Aku sadar, aku tidak pernah menjadi kesukaanmu. Tidak seperti aku menyayangimu, yang lebih dari sayang.
Manusia bumi bilang itu cinta. Yah, kata mereka sayang yang melebihi sayang adalah cinta. Cinta adalah kata yang aku temukan di bumi.
Namun, mengapa di planet kita tidak ada yang pernah menyebut kata itu? Apa mereka tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan kepadamu?
***
NB: Putek dan kehabisan ide. Nanti disambung kalau sudah ada mood. :)



Senin, 17 Desember 2012

How Nice You Are?



Malam minggu kemarin saya sangat tersanjung. Bagaimana tidak, julukan “JOMBLO” yang kerap kawan-kawan saya lontarkan semakin tak punya makna apa-apa bagi saya.
Apa? Saya punya pacar baru? Tidak, saya tidak mempunyai pacar baru. Saya hanya kembali menemukan sosok “laki-laki” yang kembali membuat saya kagum.
Saya memang sosok yang gampang kagum dengan seseorang yang baru, terutama kalau dia cerdas. Namun, dia tidak baru dalam hidup saya. Dia sudah menjadi bagian dari hidup saya semenjak 12 tahun yang lalu.
***
Apa yang bisa dilakukan seorang jomblo di malam minggu? Jalan? Jalan dengan siapa? Mereka yang di luar sana juga sedang sibuk mengurusi urusan cinta mereka masing-masing. Pilihan terbaik adalah membusuk di kamar. Memantau timeline di Twitter dan mencoba mencari kalimat yang bagus untuk berceloteh.
Tidak semua jomblo menghabiskan malam minggu seperti yang saya gambarkan di atas. Mungkin hanya sebagian kecil, dan sebagain kecil itu ada saya di dalamnya. Yah, tertawalah sepuas kamu mendapati diri saya yang kerap membusuk di kamar ketika sebagian dari manusia di bumi bercinta.
Malam minggu ini saya memulainya dengan perasaan muak. Entah muak karena apa. Dada saya mulai naik turu menahan emosi yang entah untuk apa. Jangan sebut ini sebagai galau, saya tidak segampang itu untuk galau. Perasaan malam ini sebut saja sebagai rasa kecewa yang dalam. Rasa kecewa yang bertumpuk dan membuat saya memutar lagu “I’ll survive, cake” dan meresapi setiap liriknya. Berharap setelah mendengar dan meresapi lagu itu saya bisa mengkombinasikan rasa kecewa yang sedang saya rasa. Kemudian saya bisa lupa dengan sosok yang membuat saya kecewa ini.
Saya mulai mendengarkan dan membaca liriknya baik-baik. Merenung dan merenung. Sampai renungan saya terganggu dengan teriakan laki-laki dari teras rumah saya. Saya sangat tahu suara siapa itu. Makanya saya tetap diam dan pura-pura tidak mendengarnya.
Dia itu, bukan orang yang gampang menyerah kalau sudah ada niatan. Tidak mendengar suara saya pun harus diyakinkan dulu apa benar saya tidak ada?
Orang tua saya sangat menyayangi dia. Terutama ibu saya. Dia itu sudah seperti anak ke lima di keluarga saya. Dia datang dan mencari saya adalah lumrah dan membahagiakan bagi mereka. Jadi, ketika dia tanya di mana saya, jawaban paling jujur akan orang tua saya berikan.
***
Setelah selesai mengganti pakaian yang lebih wajar untuk jalan di malam minggu, kami berpamitan kepada orang tua saya. Kami berjanji tidak akan pulang melebihi jam 9 malam.
Tunggu, tunggu. Sepertinya saya belum sempat memperkenalkan sosok yang menculik saya ini. Dia bernama Ma’rij Rafian, umurnya 12 tahun. Dia kelas 6 SD. Badannya tinggi dan agak gendut. Untuk ukuran anak kelas 6 SD dia sangat keren. Sudah cocok lah masuk SMP. Tingginya hampir sama dengan saya. Dia ganteng dan banyak yang suka.  Yang lebih penting sih dia pandai. Nilai matematikanya paling tinggi di kelas. Sebab itulah mala mini saya jalan dengan dia.
Ayahnya yang super galak, menjanjikannya uang apabila ujian kali ini nilai matematikanya terbesar di kelasnya lagi. Janji ayahnya pun menjadi modal awal semangatnya belajar dan yah, dia mendapatkan saya menemaninya menghabiskan uang pemberian ayahnya itu.
Uangnya tak cukup untuk mentraktir saya makan di restoran mahal, bahkan kebab sekalipun. Dia hanya mampu mentraktir saya pangit di perempatan komlek rumah saya. Saya tidak kecewa, saya justu terharu. Uang hasil perjuangan dia selama seminggu, rela dia habiskan bersama saya.
Kami berjalan santai melewati setiap jalan menuju perempatan. Batin saya yang sedang kurang enak tadi berganti seketika menjadi bahagia. Tak berhenti bersyukur telah mengirim sosok yang mulai menghapus kemurungan saya malam itu.
Dia mencairkan suasana dengan guyonan khas banget anak SD. Dia meminta saya menebak tebakan yang dia buat. saya tidak bisa menjawab satu pun tebakan yang dia buat. padahal tebakan semacam itu sudah berpuluh kali saya dengar. Saya tertawa setiap kali tahu kalau jawabannya sudah pernah saya tahu sebelumnya. Kemudian saya kembali bersyukur dalam hati, bagai mana Tuhan mengirimkan orang yang tepat pada saya yang sedang sulit tersenyum ini.
Ketika kita sampai di depan rumahnya, teman-temannya yang sedang menghabiskan malam minggu bersama tak sengaja melihat kami jalan berdua. Dari kejauhan dia mulai memanggil namanya keras-keras. Dia membalikan badan dan mengisyaratkan utuk menutup mulut mereka. Dia meletakan jari telunjuknya ke mulut, memberi kode supaya teman-temannya menutup mulut.
Anak-anak SD macam mereka adalah wajib utuk membuat temannya susah dan kena marah. Isyarat Rafi untuk menutup mulut mereka diartikan sebagai “panggil namaku keras-keras”. Akhirnya Rafi menarik tangan saya dan berlari. Semakin jauh sosok kita, semakin diam mulut mereka.
***
Dia memesan dua mangkok pangsit. Dia duduk persis di depan saya. Kita mulai bercerita tentang sekolah dia. Menceritakan prestasi-prestasi dia yang sebenarnya sudah saya dengar dari orang lain lebih dulu. Dia bercerita tentang mimpi-mimpi dia. Harapan dia kedepan dan sedikit menyinggung tentang perilaku orang tuanya yang kerap kurang adil padanya.
Dia pandai sekali membuat senyum di bibir saya mengembang. Dia pandai bercerita dan melawak. Saya tahu, dia sedang berusaha sekali membuat suasana tidak henting.
***
Dia membayarkan uang hasil belajarnya kepada si mbok tukang pangsit. Kemudian dia meminta saya menunggu sebentar. Ada yang mau dia beli katanya.
Hanya sekitar lima menit dia sudah kemabli dengan membawa dua buah minuman dingin. Dia memberikannya satu untuk saya. Kemudian mengajak saya pulang.
Lagi-lagi saya tersanjung. Bagaimana bisa anak SD sudah pandai sekali sopan terhadap wanita yang dia ajak pergi bermalam minggu.
***
Saya kira dia akan langsung pulang setelah berhasil membawa saya menghabiskan satu mangkok pangsit. Namun dia justru mengantar saya sampai ke rumah. Dia mengajak saya bermain gitar. Tidak, dia tidak pandai bermain gitar. Tentu saya yang memainkannya dan dia bernyayi.
Karena keterbatasan saya dalam menggunakan “kunci” gitar hanya beberapa lagu saja yang bisa kita mainkan.
Kita menghabiskan sisa waktu sebelum jam Sembilan dengan mengobrol. Dia bertanya tentang planning saya kedepan. Dia memberikan beberapa referensi sekolah untuk saya mengajukan lamaran. Saya tidak habis fikir, kenapa dia sampai sejauh itu memikirkan masa depan saya?
***
Jam malam di rumah saya adalah pukul Sembilan. Papa sudah mulai kode sana sini. Saya pun meminta Rafi untuk pulang. Besok saya dan dia berjanji untuk jalan pagi bersama.
Ketika duduk bersama papa, bliau berkata bahwa setiap malam minggu Rafi dating ke rumah mencari saya. Namun, saya kerap menghabiskan malam minggu di rumah tante.
Setiap sore juga dial oh yang kerap mengajak saya berkeliling. Tahu benar saya sudah muak dengan kegiatan yang monoton di rumah.