Kamis, 17 Januari 2013

17-1-2013


Gue udah sampai pada titik jenuh. Melakukan hal-hal yang membuat kepala gue makin berat untuk sekedar menengadah. Membuat otak gue semakin kencang untuk berfikir melanjutkan hidup di tanah lain.
Gue memulai pagi dengan keresahan hati, kebosanan jiwa yang membuat siang menjadi neraka yang tak berujung hingga malam. Gue udah pada satu titik di mana cuma gue yang tahu tentang kegusaran gue. Dan orang-orang sekitar cuma tahu kalau gue happy dan have no problem. Lucu.
Gue ngabisin hari-hari dengan pusing di kepala dan muntah. Wujud penolakan jiwa karena kelamaan ngabisin waktu dengan kegiatan yang sama sekali gak produktif untuk manusia seumuran gue.
Keluarga gue sedang dilanda masalah ekonomi. Meski masalah ekonomi keluarga gue gak seribet pengusaha yang punya hutang ratusan milyar, bagi keluarga gue yang berasal dari ekonomi rendah tentu pusing tujuh keliling.
Babeh kalau udah kesinggung dikit langsung muncrat omongan yang kasar-kasar. Dan mama gue, kalau udah kesinggung dikit langsung teriak-teriak atau kalau gak nangis sambil meratapi nasib dan berdoa yang enggak enggak. Muak gue.
Kakak gue? Don’t ask about them. Sometime when I say that I don’t wanna marry one day, Its because of them. The figure of man in my family.
Gue serius pingin hidup mandiri. Gue mau ngasah potensi apapun yang ada di diri gue. Untuk ngurusin soal cowok, itu nanti. Hidup gue udah pusing dengan masalah-masalah ini. Gue lagi gak butuh nambah-nambah masalah apa lagi masalah hati.
Capek deh setiap kali mereka badmood gue yang jadi sasaran kemarahan mereka. Gue bukan tembok, gue manusia yang punya hati kalau kalian marah-marain. Hih..!! gue udah gak betah. Someone please take me away.
Just it for today. Palingan entar, bentar lagi gue disuruh njemur dengan kata tolong yang gak sopan. Habis itu gue nangis deh.
Hidup gue kok jadi aneh gini sih? Jungkir balik gak jelas..!!! :’(

Hari Kemarin



Kemarin kita masih bersama. Saling menanyakan kabar, meski kita sudah tahu jawabnya.

Kemarin kita masih bersama. Enggan menutup telfon lebih dulu. Berharap waktu lebih lama dari sekedar 24 jam. Hanya ketika kita bersama.

Kemarin kita masih bersama. Berdiskusi tentang apa saja yang menyangkut di otak kita. Mestinya kita jujur saja, di otak kita hanya ada kata aku dan kamu. Kata kita.

Kemarin kita masih bersama. Saling bercerita tentang mimpi kita masing-masing. Saling menasehati, saling menyemangati.

Kemarin kita masih bersama. Saling memanggil sayang, bertukar kasih.

Kemarin kita masih bersama. Sakitku adalah sakitmu, bahagiaku adalah bahagiamu. Lucu, bagaimana bisa begitu?

Kemarin kita masih bersama. Saling berkata cinta, bertukar kalimat manis.

Kemarin kita masih bersama. Merayu semesta tentang wujud kata kita. 

Kemarin kita masih bersama. Berama-sama belajar bahasa kita berdua. Bahasa kasih yang semakin fasih.
Kemarin kita masih bersama. ketika kamu tak pernah lelah paham tentang kegusaranku.

Kemarin kita masih bersama. Ketika kamu masih merasakan angin-angin yang sengaja membawa rinduku, membasuh lelahmu.

Kemarin kita masih bersama. ketika aku belum tersesat begini jauh mencari jejak-jejakmu yang kian menjauh.

Kemarin kita masih bersama. ketika aku selalu tahu jalan pulang menuju rumahmu.

Kemarin kita masih bersama. ketika kamu masih meninggalkan remukan roti. Pertanda jalan menuju hatimu.

Kemarin kita masih bersama. saat cinta kita rasakan dengan hati.

Kemarin kita masih bersama. aku merindukan hari kemarin. Ketika kata aku dan kamu, masih menjadi kita. 

apa rindu ini menjadi kepunyaanmu juga?

Sabtu, 12 Januari 2013

An Original

Siang ini gue habis ngedit tampilan blog gue. Setelah kurang lebih tiga tahun gue ngutak ngutik yang namanya blog, ternyata hasilnya sama. Gue sama sekali gak ada kemajuan dalam edat-edit blog. Entah gue yang gaptek atau gue yang gak punya jiwa seni. Entah lah.

Ngomongin seni, akhir-akhir ini gue mulai main gitar lagi. Sebagai manusia yang sebagaian besar teman-temannya sudah married sedangkan gue sendiri masih jomblo dan nganggur, gue merasa perlu untuk menyibukan diri dengan cara menghibur diri. Menurut gue main gitar adalah salah satu cara buat ngehibur diri, meski kadang harus main gitarnya jauh dari rumah karena mama sumpek denger genjrang-genjreng gak jelas dari petikan gitar yang gue mainin. What the fuck skill that i have!

Gue itu udah mulai pegang-pegang senar gitar sejak gue SD. Kelas berapanya gue lupa. yang jelas dari mulai gue kecil sudah ada gitar di rumah dan gue udah dipaksa latihan gitar sama kakak-kakak gue.

Gue itu bukan tipe orang yang sabar. Maunya cepet bisa. Padahal disuruh praktek aja gak mau. "Practice make perfect" toh? Karena sifat gue yang satu itu, sampai sekarang gue baru bisa main beberapa lagu dengan kunci setandar.

Gue selalu ngrasa kalau di rumah ini gue doang yang gak punya jiwa seni. Dari mulai seni tari, lukis, dan musik ketiga saudara gue bisa. Kalau pun gak bisa semuanya, minimal mereka kompeten di salah satu jenis seni itu. Lah gue? gue gak punya satu skill pun dari masing-masing seni yang saudara gue punya. Serius gue minder banget.

Kaya misalkan seni tari. Dulu babeh masukin gue ke sangar tari. Baru satu bulan gue udah gak betah. Gue ngrasa gue gak bisa nari. Teman-teman gue aja udah pandai melenggak-lenggok, lah gue? Gue cuma dapet ketawaan karena gue kaku banget narinya. Gue sadar banget ini bukan bakat gue.
Kemudian seni gambar. Gue sempet dapet juara gambar pas TK dan selalu dapet nilai bagus dalam menggambar. Guru seni juga suka muji gambar gue. Tapi tetep aja menurut gue gambar-gambar yang gue buat selalu kalah dengan karya-karya saudara gue.

Terakhir musik. Kalau soal musik, gue cuma pinter ngedengerin. Menurut gue selera musik gue gak buruk-buruk amat. Tapi kalau gue disuruh nyanyi atau main alat musik? Please, someone kill me first than you will be killed by my voice and the way i play the music.

Iya, gue putus asa banget deh kalau bicara tentang skill dalam seni. tapi Tuhan selalu adil bukan kepada umatnya? Gue percaya sih gue punya skill lain di bidang lain. Kaya misalkan skill ngomong dengan kecepatan melebihi manusia normal pada umumnya. Ho'oh, banyak orang bilang kalau gue ngomong itu gak punya titik koma. Entah harus bangga atau malu.

Yang pasti sebagai manusia, kita harus tetap mensyukuri apapun yang kita punya. Percaya deh, iri pada apa yang orang lain punya akan membawa kita pada wujud ketidak bersyukuran. sebagai motivasi boleh, tapi hati-hati. kadang wujud iri adalah benci kepada orang lain dan merendahkan kemampuan diri sendiri.

Sebagai generasi muda, gue sih lebih milih mencari potensi apa yang ada dalam diri gue. Kemudan gue asah tuh potensi. kaya sekarang ini. Selain kemampuan ngomong cepet yang entah apa manfaatnya, gue juga ngrasa bisa dan suka nulis. Makanya gue aktif ngeblog dari wujud syukur gue atas skill nulis yang tuhan kasih buat gue.

Gue pingin hidup dari skill yang satu ini. Gak mudah. Gak banyak juga orang yang bisa hidup enak dari nulis. Tapi jadi apa yang sebenarnya gue lebih baik dari bersembunyi dan berpura-pura jadi yang bukan gue. Gue sulit untuk berpura-pura bahagia atau berpura-pura nyaman.

Sekarang gue udah mulai jujur sama diri gue tentang apa yang gue mau. gue juga udah mulai jujur pada orang-orang disekitar gue tentang apa yang sedang gue perjuangkan. Gue mau jadi apa sebenarnya gue, bukan apa yang mereka mau.





Yap, setuju banget sama kata-kata di atas. nih yah, tulisan yang diprin aja pasti lebih mahal dari yang kopian kan? bukan bermaksud menilai sesuatu dari materi, karena sesungguhnya buat gue harga menjadi diri sendiri gak akan pernah kebeli sama apapun yang ada di dunia.

Hai, udah banyak tuh yang kopian. Masih mau juga jadi manusia yang bukan original?
Jadi boyband atau girlband aja deh yang niru banget produk Korea. :p

Kata gue sih, jangan terlalu dipercaya. Percaya saja sama Tuhan :D






Kamis, 10 Januari 2013

Cinta itu Mem-Bahagia-Kan

Barusan gue habis iseng-iseng bikin gambar. Tiba-tiba gue inget sama salah satu sahabat  yang waktu ulang tahun gue jajnji bikin tulisan di blog buat hadiah.



berani gak?
Kamu lihat balon itu?
Haruskan dia merelakan dirinya "meletus" hanya untuk dapat memeluk kaktus?
Balon tak harus memeluk kaktus, dan kaktus harusnya pun tak  meminta peluk.
Di mana pun, cinta bukan untuk saling menyakiti. tujuan cinta adalah untuk saling membahagiakan.
Meski bersama tidak hanya untuk  memeluk bahagia, bersama pun untuk saling memeluk kesedihan.
Namun tak harus memusnakahnmu dari semesta bukan?
Doa adalah wujud cinta yang paling tulus.
Maka, saling mendoakan dalam kebaikan sudah cukup membuktikan cintamu dan cintanya.
Tuhan maha tahu dari segala yang paling baik bagimu.

kapan nih gue ada di situasi kaya gini?
Jadilah diri yang baik.
Maka Tuhan yang maha baik itu selalu mengirimkan orang-orang yang baik. 
Kelak, akan datang dia yang selalu ingin melihatmu bahagia.
Memastikan keselamatanmu adalah hal yang utama. 
Karena baginya, apapun yang ada di dunia ini tidak akan bisa menggantikan keberadaanmu di semesta.
Yang memberikan satu-satunya payung yang dia punya, hanya untuk kamu yang benar-benar menjadi satu-satunya wantia di hatinya.