Sewaktu awal kuliah
aku merasa sangat kesepian. Teman satu geng sewaktu SMA tidak satu pun yang
kuliah di kota yang sama denganku. Mereka mengejar pendidikan di jawa seperti
cita-cita kita dulu. Yah, hanya aku lah yang masih tinggal di kota ini dengan
seribu kenangan dari mereka.
Aku membatasi diri
untuk berteman akrab dengan orang lain. Itu semakin membuatku merasa kesepian.
Aku benar-benar butuh teman berbagi. Tapi itu lah aku, yang tidak bisa akrab
dengan teman baru untuk berbagi cerita atau sekedar berbagi lelucon.
Suatu hari, di
tengah kesepianku dengan aktifitas
kuliah yang kadang membuatku bosan aku bertemu dengan cowok tapan bertampang
mirip Ridho Roma. Namanya juga cukup keren, Ed aku memanggilnya. Mirip edward
colin ya??? Itu loh actor dalam film Twilight.
Aku bertemu Ed di salah satu konter penjualan pulsa
di dekat loket penjualan tiket kereta.
Seperti biasa, weekend aku harus pulkam untuk melepas sejenak bebean kebosanan
di otaku yang sudah mengkarat oleh tugas-tugas kampus. Aku mencatat no
handphone ku di kertas yang disodorkan penjual pulsa. Aku menuliskan dua belas
dijit nomor dan dreett...dreeettt... sms sampai bertuliskan pengisian pulsa
yang sukses. Setelah membayar akupun berlalu tanpa mempedulikan orang-orang di
sekitarku.Yah, aku sama sekali tidak tahu kalo salah satu cowok di konter itu
memperhatikan aku.
Sesampainya di
rumah, aku pun bercengkramah sebentar dengan orang tuaku. Menjawab pertanyaan
seputar kuliah (seperti biasa) aku pun pamit untuk mandi dan melepas lelah di
kamar. Selesai mandi aku mulai membenamkan bandanku di kasur.”hemm.. lepas
semua beben kuliah rasanya kalo sudah bersantai di kamar tercintaku ini”
bisikku dalam hati.” Tanganku meraba tas yang aku letakan di samping bantal,
mencari handphone.
“wah ada sms
ternyata.”
Tanganku mulai
menekan tobol ok untuk membacanya.
“haiii..... nama kamu siapa sih?? Leh kenalan gak???”
“iiihhh... siapa
neh? Kurang kerjaan banget deh!” gerutuku.
Aku letakan
handphone di samping bandal dan keluar kamar. Yah, makan masakan mama lebih
menarik hatiku dari pada menanggapai sms dari orang yang kurang kerjaan
pikirku.
Malamnya, seusai
bosan menonton acara TV aku kembali ke kamarku. Mencuci muka dan siap-siap tari
selimut. Mata sudah 5 watt, jiwa juga sudah setengah masuk kealam mimpi dan ini
lah saatnyaaa....
DRRRRTTTTTTTT......
DRRRRTTTTTTT.... someone calling you you have to pick up your
phone.........!!!!
Yah, nada dering
yang membuat mataku melek selebar jengkol.
Hallo???? Sapaku
judes.
Ngapain sih nelfon
malem-malem????? Gangguuuuu.....
“Aku ed.... maaf ya
kalo ganggu... niatnya Cuma pingin kenalan doang kok..”
Semenjak malam itu
kami pun setiap malam saling telfon menelfon. Kalo bukan dia yang menelfon, aku
lah yang akan menelfonnya. Begitulah setiap malamnya.
Setelah sekitar
satu bulan, kami pun memutuskan untuk berpacaran. Ed menembakku di kereta
sewaktu pulkam minggu lalu.
Aku sangat
bersyukur mempunyai ed yang sangat jujur padaku. Dia juga apa adanya. Mungkin
karena mamang adanya itu kali ya. Dia jujur kalo dia adalah seorang pengamen
jalanan, sekolahnya saja SD sampai SMA ambil paket semua. Dia juga pemakai
narkoba. Tapi dia berjanji bakalan berhendi demi aku kok.
Hubungan kami
semakin hari semakin dekat. Selain aku pernah diajak main ke rumah orang
tuanya, aku juga sering diajak ngamen di pasar bareng dia. Anehnya aku dengan
senang hati menerima ajakan Ed buat ngamen bareng, mungkin karena cinta kali
ya!
Berbeda banget
dengan orang tua Ed yang welcome banget sama kedatangan aku ke rumah. Orang
tuaku justru sangat menentang hubunganku dengan Ed. Hubungan kami sempat putus
namun balikan lagi setelah mengaku masih saling cinta dan berjanji akan
mengatasi masalah ini berdua.
Hubunganku dan Ed
sudah tidak pernah dipermasalahkan lagi oleh orang tuaku. Bukan karena mereka
setuju, tapi karena mereka percaya kalau aku sudah putus dengan Ed. Yah,
pinter-pinter aku aja ngeles dan ngibul. Maaf mama dan papa anak sekarang mamng
jago bo’ong. Apa lagi bo’ong masalah uang sekolah dan pacar. Hehehehehhe......
Hari-hari dengan Ed
masih seperti dulu. Penuh kebahagiaan, canda dan tawa. Belum lagi kegilaan
tingkahnya yang selalu membuatku tertawa penuh dan tentu saja itu yang
membuatku susah untuk meninggalkannya hingga pada suatu malah ia menelfon
dengan nada parau.
Ed berkali-kali meminta
maaf dan menjelaskan alasannya meminta putus denganku. Aku mendengarkannya
dengan perasaan percaya dan tidak. Aku menutup telfon dan kembali tidur dengan
harapan itu semua hanya MIMPI BURUK.
***
Ed datang ke kos
besok malamnya. Ia datang untuk membicarakan lagi mengenai putusnya hubungan
kita. Dia kembali meminta maaf untuk keputusannya memutuskan aku secara
tiba-tiba. Masih dengan alasan yang sama. Orang tuanya menjodohkannya dengan
wanita lain. Ed juga menyetujuianya. Alasannya hubungan cintaku dan dia tidak
ada masa depannya. Dari mulai status sosial dan ketidak setujuan orang tuaku
dengan hubungan kita. Sebelum pergi, Ed juga berkata padaku bahwa aku harus
menyimpan semua barang pemberiannya. Dia berharap kenangan masa pacaran kita
menjadi saksi seberapa bahagianya kita dulu.
Ed pun pulang
dengan salam perpisahan dariku. Aku kembali ke kamar kosku dan menatap semua
barang peninggalan Ed.
“Dari semua
kenang-kenangan cinta kita, anak ini lah yang akan mengingatkan aku betapa
bahagianya aku denganmu Ed” bisiku lirih dan mengelus perutku yang sudah
berisikan janin 2 bulan ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar