Minggu, 20 November 2011

Kenangan Terindah Ed


Sewaktu awal kuliah aku merasa sangat kesepian. Teman satu geng sewaktu SMA tidak satu pun yang kuliah di kota yang sama denganku. Mereka mengejar pendidikan di jawa seperti cita-cita kita dulu. Yah, hanya aku lah yang masih tinggal di kota ini dengan seribu kenangan dari mereka.
Aku membatasi diri untuk berteman akrab dengan orang lain. Itu semakin membuatku merasa kesepian. Aku benar-benar butuh teman berbagi. Tapi itu lah aku, yang tidak bisa akrab dengan teman baru untuk berbagi cerita atau sekedar berbagi lelucon.
Suatu hari, di tengah kesepianku  dengan aktifitas kuliah yang kadang membuatku bosan aku bertemu dengan cowok tapan bertampang mirip Ridho Roma. Namanya juga cukup keren, Ed aku memanggilnya. Mirip edward colin ya??? Itu loh actor dalam film Twilight.
Aku bertemu  Ed di salah satu konter penjualan pulsa di  dekat loket penjualan tiket kereta. Seperti biasa, weekend aku harus pulkam untuk melepas sejenak bebean kebosanan di otaku yang sudah mengkarat oleh tugas-tugas kampus. Aku mencatat no handphone ku di kertas yang disodorkan penjual pulsa. Aku menuliskan dua belas dijit nomor dan dreett...dreeettt... sms sampai bertuliskan pengisian pulsa yang sukses. Setelah membayar akupun berlalu tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarku.Yah, aku sama sekali tidak tahu kalo salah satu cowok di konter itu memperhatikan aku.
Sesampainya di rumah, aku pun bercengkramah sebentar dengan orang tuaku. Menjawab pertanyaan seputar kuliah (seperti biasa) aku pun pamit untuk mandi dan melepas lelah di kamar. Selesai mandi aku mulai membenamkan bandanku di kasur.”hemm.. lepas semua beben kuliah rasanya kalo sudah bersantai di kamar tercintaku ini” bisikku dalam hati.” Tanganku meraba tas yang aku letakan di samping bantal, mencari handphone.
“wah ada sms ternyata.”
Tanganku mulai menekan tobol ok untuk membacanya.
“haiii..... nama kamu siapa sih?? Leh kenalan gak???”
“iiihhh... siapa neh? Kurang kerjaan banget deh!” gerutuku.
Aku letakan handphone di samping bandal dan keluar kamar. Yah, makan masakan mama lebih menarik hatiku dari pada menanggapai sms dari orang yang kurang kerjaan pikirku.
Malamnya, seusai bosan menonton acara TV aku kembali ke kamarku. Mencuci muka dan siap-siap tari selimut. Mata sudah 5 watt, jiwa juga sudah setengah masuk kealam mimpi dan ini lah saatnyaaa....
DRRRRTTTTTTTT...... DRRRRTTTTTTT.... someone calling you you have to pick up your phone.........!!!!
Yah, nada dering yang membuat mataku melek selebar jengkol.
Hallo???? Sapaku judes.
Ngapain sih nelfon malem-malem????? Gangguuuuu.....
“Aku ed.... maaf ya kalo ganggu... niatnya Cuma pingin kenalan doang kok..”
Semenjak malam itu kami pun setiap malam saling telfon menelfon. Kalo bukan dia yang menelfon, aku lah yang akan menelfonnya. Begitulah setiap malamnya.
Setelah sekitar satu bulan, kami pun memutuskan untuk berpacaran. Ed menembakku di kereta sewaktu pulkam minggu lalu.
Aku sangat bersyukur mempunyai ed yang sangat jujur padaku. Dia juga apa adanya. Mungkin karena mamang adanya itu kali ya. Dia jujur kalo dia adalah seorang pengamen jalanan, sekolahnya saja SD sampai SMA ambil paket semua. Dia juga pemakai narkoba. Tapi dia berjanji bakalan berhendi demi aku kok.
Hubungan kami semakin hari semakin dekat. Selain aku pernah diajak main ke rumah orang tuanya, aku juga sering diajak ngamen di pasar bareng dia. Anehnya aku dengan senang hati menerima ajakan Ed buat ngamen bareng, mungkin karena cinta kali ya!
Berbeda banget dengan orang tua Ed yang welcome banget sama kedatangan aku ke rumah. Orang tuaku justru sangat menentang hubunganku dengan Ed. Hubungan kami sempat putus namun balikan lagi setelah mengaku masih saling cinta dan berjanji akan mengatasi masalah ini berdua.
Hubunganku dan Ed sudah tidak pernah dipermasalahkan lagi oleh orang tuaku. Bukan karena mereka setuju, tapi karena mereka percaya kalau aku sudah putus dengan Ed. Yah, pinter-pinter aku aja ngeles dan ngibul. Maaf mama dan papa anak sekarang mamng jago bo’ong. Apa lagi bo’ong masalah uang sekolah dan pacar. Hehehehehhe......
Hari-hari dengan Ed masih seperti dulu. Penuh kebahagiaan, canda dan tawa. Belum lagi kegilaan tingkahnya yang selalu membuatku tertawa penuh dan tentu saja itu yang membuatku susah untuk meninggalkannya hingga pada suatu malah ia menelfon dengan nada parau.
Ed berkali-kali meminta maaf dan menjelaskan alasannya meminta putus denganku. Aku mendengarkannya dengan perasaan percaya dan tidak. Aku menutup telfon dan kembali tidur dengan harapan itu semua hanya MIMPI BURUK.
***
Ed datang ke kos besok malamnya. Ia datang untuk membicarakan lagi mengenai putusnya hubungan kita. Dia kembali meminta maaf untuk keputusannya memutuskan aku secara tiba-tiba. Masih dengan alasan yang sama. Orang tuanya menjodohkannya dengan wanita lain. Ed juga menyetujuianya. Alasannya hubungan cintaku dan dia tidak ada masa depannya. Dari mulai status sosial dan ketidak setujuan orang tuaku dengan hubungan kita. Sebelum pergi, Ed juga berkata padaku bahwa aku harus menyimpan semua barang pemberiannya. Dia berharap kenangan masa pacaran kita menjadi saksi seberapa bahagianya kita dulu.
Ed pun pulang dengan salam perpisahan dariku. Aku kembali ke kamar kosku dan menatap semua barang peninggalan Ed.
“Dari semua kenang-kenangan cinta kita, anak ini lah yang akan mengingatkan aku betapa bahagianya aku denganmu Ed” bisiku lirih dan mengelus perutku yang sudah berisikan janin 2 bulan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar