Minggu, 20 November 2011

Aku Hamil, Itu Saja!


Masa remaja memang sangat rentan, pada saat anak mengalami suatu pertumbuhan, hendaknya orang tua senan tiasa mendampingi. Suatu kisah yang berawal dari kurangnya perhatian orang tua dengan kebutuhan remaja pada saat pertumbuhan.
Sebut saja namanya Ajeng, dia adalah gadis yang manis. Terlahir dari keluarga yang memang kurang memperhatikan nilai-nilai agama dalam mendidik anak-anaknya. Hingga sebuah peristiwa terjadi pada anak bungsunya. Suatu kecelakaan yang harusnya tidak terjadi pada gadis secantik Ajeng.
Ajeng memulai persahabatan dengan kami pada awal semester dua. Kami empat sahabat yang terdiri dari aku,Nitha,Oci dan Ajeng. Dia memang sangat berbeda dengan kami, pergaulannya pada dunia malam sangat luas, tergambar jelas dari kisah-kisah yang ia tuturkan kepada kami. Sering kali ketika kami sedang bersama di kos-kosan Nitha, tiba-tiba saja ajeng di jemput oleh laki-laki yang kata ajeng adalah pacarnya, anaehnya laki-laki tersebut selalu saja berganti-ganti orang dan tentunya selalu membawa mobil.
Kami pun ahirnya menegur Ajeng dengan kelakuan Ajeng yang menurut kami kurang wajar. Ajengpun menjawab dengan gampangnya “aku kan gak Cuma punya cowo satu” dengan gaya yang serba tau diapun menjelaskan kepada kami bahwa selagi muda pinter-pinter lah cari cowo yang tajir. Kami hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata Ajeng.
Semakin hari kelakuan Ajeng pun semakin keterlaluan. Sepertinya aturan-aturan agama memang sudah tak penting lagi untuknya. Ketika kami mengajaknya untuk sholat dia sering membentak kami agar tak mengganggu kalo hanya menyuruhnya sholat. Dia juga sering sekali bercerita bahwa dia baru pulang dari diskotik “Subahanallah…apakah orang tuanya memang benar-benar tidak memperhatikan kelakuan anaknya?” Tanya aku dalam hati.
Ternyata benar saja, setelah kata-kata kami kurang mempan untuk menasehati Ajeng kamipun berinisiatif untuk mengunjungi rumah Ajeng, kami berpura-pura bahwa ingin mengunjungi rumahnya dan bersilahturahmi dengan orang tuanya.
Kami kaget bukan kepalang ketika dating kerumah Ajeng. Rumahnya begitu berantakan dan sangat kotor. Berbeda sekali dengan dandanan Ajeng yang selalu rapi. Kain-kain kumuh berserakan dimana-mana. Dan fakta baru yang kami dapat  ternyata bapak Ajeng adalah seorang laki-laki yang doyan kawin dan ibu ajeng adalah istri ketiga.
Pada saat kami dating tepat waktu sholat asar sehingga kami minta izin untuk sholat disana. Anehnya ternyata mukenah dan sajadah tak pernah mereka gunakan. Bau kapur barus sangat menyengat dari mukenah yang mereka pinjamkan kepada kami. Ibunya berkata pada kami “untuk apa sih sholat jungkir balik??? doa kita ajah gak pernah dikabulin” ya alloh…benarkah apa yang kita dengar adalah kata-kata yang diucapkan oleh seorang ibu???
Ahirnya kami memutuskan untuk tidak mau tau lagi dengan urusan Ajeng, dia saja tidak pernah mendengar nasehat-nasehat kami. Bulan berganti bulan dan terjadilah suatu peristiwa yang benar-bebar jami takutkan.
“Pertut ajeng makin besar ajah…” tutur Oci
“Apa hamil ya??” Nitha pun ikut penasaran
“Apa gak sebaiknya kita tanyakan langsung say??”kataku bingung
Kamipin memberanikan diri menanyakan langsung kepada ajeng dengan kecurigaan kami dengan keadaan perutnya yang semakin besar. Selayaknya sahabat kami pun peduli dengan masalah yang teman kami hadapi. Kami menaynyakan langsung kepada ajeng ketika kita sama-sama kumpul di kos-kosan Nitha.
Pengakuan dari seorang sahabat yang kami sayangi bagai petir disiang bolong. Ajeng memang benar-benar hamil, ya dia hamil empat bulan. Ajeng sangat bingung dengan kehamilannya ini, dia benar-benar tidak tau apa yang harus dilakukan dengan kandungannya ini. Dia berisisiatif untuk menggugurkan kandunganya kepada dukun agar biaya lebih murah katanya namun tentu saja kami melarangnya.
Kami menyuruh Ajeng untuk memberitaukan kehamilanya kepada orang tuanya terlebih dahulu karna kami yakin orang tuanya pasti tak tau mengenai peristiwa yang dialami anaknya. Benar saja, ternyata orang tuanya memang tak tau masalah berat yang dihadapi oleh anaknya. Namun Ajeng sangat takut untuk menceritakan masalah ini pada orang tuanya dan butuh waktu dua minggu untuk  kami meyakinkan Ajeng bahwa orang tuanya pati bisa membantu maslahnya dan akan tetap saying dan peduli padanya.
Kamipun tinggal menerima kabar dari meri tentang pemecahan masalahnya, kami berharap sahabat kami mendapat solusi terbaik dari masalahnya.
Solusi yang diberikan oleh orang tua ajeng tak lain dan tak bukan adalah menggugurkan kandungan Ajeng yang sudah mau menginjak lima bulan. Masya allah…sudah lima bulan akan digugurkan??? Bukan saja akan membunuh janin yang ada dalam rahim ajeng tapi nyawa ajeng juga menjadi taruhanya bukan???
Kami sangat tidak setuju dengan solusi yang orang tua ajeng paparkan untuk anaknya. Kamipun ahirnya mencari laki-laki yang menurut Ajeng adalah ayah dari anak yang sedang dikandungnya. Beberapa tempat kita kunjungi untuk sosok yang bernama Andre, jejak kepergiannya pun tak kami dapatkan. Beberapa hari kami mencari dibeberapa tempat yang dan hasilnya nihil.
Perut Ajeng semakin besar dan tidak mungkin menyembunyikan kondisi ini dari anak-anak kampus, banyak sekali teman-teman kami yang menanyakan perut Ajeng. Kami semakin kasihan dengannya.
Suatu hari Ajeng berniat meminjam uang kepada kami senilai dua setengah juta, namun kami tak memberinya. Bukan karena pelit atau apa namun Ajeng berniat mengguanakan uang itu untuk menggugurkan kandungannya, oleh karena itu kami menolaknya.
Setelah hari itu, sosok ajeng tak lagi terlihat di kamus ataupun tempat-tempat yang biasa kita kunjungi bersama, nomor  HP pun tak aktiv lagi. Kemanakah sosok Ajeng???
Kami menelusuri sosok ajeng kerumahnya. Kami menanyakan keberadaan Ajeng kepada orang tua Ajeng, haru bercampur sedih ketika mendengar bahwa Ajeng dipindahkan kerumah neneknya sampai melahirkan, kemudan dia akan kembali kuliah setelah itu.
Ajeng menolak menggugurkan kandungannya, sehingga orang tuanya pun tak bisa berbuat banyak dan menyembunyikan ajeng dari gunjingan warga sampai semuanya kembali normal.
Pada jaman sekarang, agama adalah alat utama dalam bagi kita semua untuk membatasi diri berbuat sesuatu yang membawa kita pada jalan-kjalan yang sesat. Jangan sampai kita menyesal hanya karna kurangnya iman di hati hingga terjerumus dalam jalan setan yang membawa kita kedalam kerak-kerak neraka.
Semoga kita semua mendapatkan pelajaran yang berarti dari kehidupan sahabatku Ajeng. Kita bisa berubah asal kita mau, dan kami harap Ajeng pun akan berubag setelah pelajaran yang ia alami dari kesalahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar