Masa remaja
memang sangat rentan, pada saat anak mengalami suatu pertumbuhan, hendaknya
orang tua senan tiasa mendampingi. Suatu kisah yang berawal dari kurangnya
perhatian orang tua dengan kebutuhan remaja pada saat pertumbuhan.
Sebut saja
namanya Ajeng, dia adalah gadis yang manis. Terlahir dari keluarga yang memang
kurang memperhatikan nilai-nilai agama dalam mendidik anak-anaknya. Hingga
sebuah peristiwa terjadi pada anak bungsunya. Suatu kecelakaan yang harusnya tidak
terjadi pada gadis secantik Ajeng.
Ajeng memulai
persahabatan dengan kami pada awal semester dua. Kami empat sahabat yang
terdiri dari aku,Nitha,Oci dan Ajeng. Dia memang sangat berbeda dengan kami,
pergaulannya pada dunia malam sangat luas, tergambar jelas dari kisah-kisah
yang ia tuturkan kepada kami. Sering kali ketika kami sedang bersama di
kos-kosan Nitha, tiba-tiba saja ajeng di jemput oleh laki-laki yang kata ajeng
adalah pacarnya, anaehnya laki-laki tersebut selalu saja berganti-ganti orang dan
tentunya selalu membawa mobil.
Kami pun ahirnya
menegur Ajeng dengan kelakuan Ajeng yang menurut kami kurang wajar. Ajengpun
menjawab dengan gampangnya “aku kan gak Cuma punya cowo satu” dengan gaya yang
serba tau diapun menjelaskan kepada kami bahwa selagi muda pinter-pinter lah
cari cowo yang tajir. Kami hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata Ajeng.
Semakin hari
kelakuan Ajeng pun semakin keterlaluan. Sepertinya aturan-aturan agama memang
sudah tak penting lagi untuknya. Ketika kami mengajaknya untuk sholat dia
sering membentak kami agar tak mengganggu kalo hanya menyuruhnya sholat. Dia
juga sering sekali bercerita bahwa dia baru pulang dari diskotik
“Subahanallah…apakah orang tuanya memang benar-benar tidak memperhatikan
kelakuan anaknya?” Tanya aku dalam hati.
Ternyata benar
saja, setelah kata-kata kami kurang mempan untuk menasehati Ajeng kamipun
berinisiatif untuk mengunjungi rumah Ajeng, kami berpura-pura bahwa ingin
mengunjungi rumahnya dan bersilahturahmi dengan orang tuanya.
Kami kaget bukan
kepalang ketika dating kerumah Ajeng. Rumahnya begitu berantakan dan sangat
kotor. Berbeda sekali dengan dandanan Ajeng yang selalu rapi. Kain-kain kumuh
berserakan dimana-mana. Dan fakta baru yang kami dapat ternyata bapak Ajeng adalah seorang laki-laki
yang doyan kawin dan ibu ajeng adalah istri ketiga.
Pada saat kami
dating tepat waktu sholat asar sehingga kami minta izin untuk sholat disana.
Anehnya ternyata mukenah dan sajadah tak pernah mereka gunakan. Bau kapur barus
sangat menyengat dari mukenah yang mereka pinjamkan kepada kami. Ibunya berkata
pada kami “untuk apa sih sholat jungkir balik??? doa kita ajah gak pernah
dikabulin” ya alloh…benarkah apa yang kita dengar adalah kata-kata yang
diucapkan oleh seorang ibu???
Ahirnya kami
memutuskan untuk tidak mau tau lagi dengan urusan Ajeng, dia saja tidak pernah
mendengar nasehat-nasehat kami. Bulan berganti
bulan dan terjadilah suatu peristiwa yang benar-bebar jami takutkan.
“Pertut ajeng
makin besar ajah…” tutur Oci
“Apa hamil ya??”
Nitha pun ikut penasaran
“Apa gak
sebaiknya kita tanyakan langsung say??”kataku bingung
Kamipin
memberanikan diri menanyakan langsung kepada ajeng dengan kecurigaan kami
dengan keadaan perutnya yang semakin besar. Selayaknya sahabat kami pun peduli
dengan masalah yang teman kami hadapi. Kami menaynyakan langsung kepada ajeng
ketika kita sama-sama kumpul di kos-kosan Nitha.
Pengakuan dari
seorang sahabat yang kami sayangi bagai petir disiang bolong. Ajeng memang
benar-benar hamil, ya dia hamil empat bulan. Ajeng sangat bingung dengan
kehamilannya ini, dia benar-benar tidak tau apa yang harus dilakukan dengan
kandungannya ini. Dia berisisiatif untuk menggugurkan kandunganya kepada dukun
agar biaya lebih murah katanya namun tentu saja kami melarangnya.
Kami menyuruh
Ajeng untuk memberitaukan kehamilanya kepada orang tuanya terlebih dahulu karna
kami yakin orang tuanya pasti tak tau mengenai peristiwa yang dialami anaknya.
Benar saja, ternyata orang tuanya memang tak tau masalah berat yang dihadapi oleh
anaknya. Namun Ajeng sangat takut untuk menceritakan masalah ini pada orang
tuanya dan butuh waktu dua minggu untuk
kami meyakinkan Ajeng bahwa orang tuanya pati bisa membantu maslahnya
dan akan tetap saying dan peduli padanya.
Kamipun tinggal
menerima kabar dari meri tentang pemecahan masalahnya, kami berharap sahabat
kami mendapat solusi terbaik dari masalahnya.
Solusi yang
diberikan oleh orang tua ajeng tak lain dan tak bukan adalah menggugurkan
kandungan Ajeng yang sudah mau menginjak lima bulan. Masya allah…sudah lima
bulan akan digugurkan??? Bukan saja akan membunuh janin yang ada dalam rahim
ajeng tapi nyawa ajeng juga menjadi taruhanya bukan???
Kami sangat
tidak setuju dengan solusi yang orang tua ajeng paparkan untuk anaknya. Kamipun
ahirnya mencari laki-laki yang menurut Ajeng adalah ayah dari anak yang sedang
dikandungnya. Beberapa tempat kita kunjungi untuk sosok yang bernama Andre,
jejak kepergiannya pun tak kami dapatkan. Beberapa hari kami mencari dibeberapa
tempat yang dan hasilnya nihil.
Perut Ajeng
semakin besar dan tidak mungkin menyembunyikan kondisi ini dari anak-anak
kampus, banyak sekali teman-teman kami yang menanyakan perut Ajeng. Kami
semakin kasihan dengannya.
Suatu hari Ajeng
berniat meminjam uang kepada kami senilai dua setengah juta, namun kami tak
memberinya. Bukan karena pelit atau apa namun Ajeng berniat mengguanakan uang
itu untuk menggugurkan kandungannya, oleh karena itu kami menolaknya.
Setelah hari
itu, sosok ajeng tak lagi terlihat di kamus ataupun tempat-tempat yang biasa
kita kunjungi bersama, nomor HP pun tak
aktiv lagi. Kemanakah sosok Ajeng???
Kami menelusuri
sosok ajeng kerumahnya. Kami menanyakan keberadaan Ajeng kepada orang tua
Ajeng, haru bercampur sedih ketika mendengar bahwa Ajeng dipindahkan kerumah neneknya
sampai melahirkan, kemudan dia akan kembali kuliah setelah itu.
Ajeng menolak
menggugurkan kandungannya, sehingga orang tuanya pun tak bisa berbuat banyak
dan menyembunyikan ajeng dari gunjingan warga sampai semuanya kembali normal.
Pada jaman sekarang,
agama adalah alat utama dalam bagi kita semua untuk membatasi diri berbuat
sesuatu yang membawa kita pada jalan-kjalan yang sesat. Jangan sampai kita
menyesal hanya karna kurangnya iman di hati hingga terjerumus dalam jalan setan
yang membawa kita kedalam kerak-kerak neraka.
Semoga kita
semua mendapatkan pelajaran yang berarti dari kehidupan sahabatku Ajeng. Kita
bisa berubah asal kita mau, dan kami harap Ajeng pun akan berubag setelah
pelajaran yang ia alami dari kesalahannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar