Apa yang paling kamu rindukan dari masa kecilmu? Kalau saya banyak sekali. Diantara banyak itu ada salah satu hal yang benar-benar sangat saya rindukan.
Sederhana. S-E-D-E-R-H-A-N-A.
bukan nama rumah makan padang yang tersohor itu. Tidak ada kaitannya sama
sekali.
Kesederhanaan adalah hal yang
benar-benar saya rindukan.
Dulu, saya mudah sekali tersenyum
bahagia dengan alasan-alasan yang sederhana. Hanya karena gelembung-gelembung
sabun, senyum saya seketika merekah karenanya. Bahkan, fakta bunga sepatu bisa
membuat sepatu kulit lebih mengkilap saja sudah cukup membuat saya tertawa
terkagum-kagum.
Di jaman semuanya serba
sederhana, saya mendapatkan sahabat dengan cara yang sederhana juga. Dia menyayangi
saya bukan karena saya pandai berhitung, padai tertawa, pandai melawak atau
semua hal yang kamu kira sebagai kelebihan yang pantas untuk menjadikan saya
sahabatmu. Dia memilih saya karena saya adalah apa adanya saya. Saya yang tidak
bisa diam. Saya yang gampang sekali nangis hanya karena melihat ulat dan
cacing. Saya yang kerap memaksa kalau berkehendak. Dan banyak tentang saya yang
sebagian kamu juga tahu.
Saya juga mensyukuri lauk-lauk
yang serba sederhana yang ibu saya buat. mau membaginya dengan kakak saya. Dan tidak
segan juga membaginya dengan Firman, anak yatim piatu yang kerap mama saya ajak
makan dan mandi di rumah saya.
Saya belum tahu model-model baju
apa saja yang terbaik. Yang saya tahu adalah ibu saya kerap menjahitkan
baju-baju berpita unuk saya. Bliau berharap anaknya ini mau menggunakan pakaian
yang sesuai dengan keinginannya. Bliau tahu persis baju semacamnya tidak sesuai
dengan hobi saya “Memanjat pohon” namun, dia ingin melihat saya tampak ayu.
Orang dewasa memang ribet yah?
Pikiran saya masih sangat
sederhana. Yang saya suka adalah cukup memakai kaos dan celanya yang banyak
sakunya. Sehingga cukup untuk membawa uang jajan, makanan dan benda-benda yang
nanti saya temukan ketika main.
Saya tidak berfikir sama sekali
dengan pujian orang yang mengatakan “ cantik” atau “bagus”. Yang saya tahu,
saya cukup bahagia hari ini. Dengan pakaian kotor dan kulit hitam terbakar
sinar matahari karena main seharian di luar rumah. Sangat bahagia.
Namun, bagaimana pun juga mesin
waktu itu tidak ada. Kita tidak mungkin akan bisa kembali ke masa di mana kita
berkehendak. Yang kita perlu sekarang hanya lah bersyukur.
Bersyukur dengan apa yang sudah
kita dapat. Memahami nikhmat Tuhan yang tak pernah berhenti mengalir meski kita
kerap nakal kepadaNya.
Bila pun kita ingin bahagia
seperti dulu saat masih kecil. Kita hanya perlu menyederhana kana apa pun
menjadi rasa syukur. Cukup kan rasa sedih kita dengan cukup bahagia.
Kita terlalu ribet dan takut
dengan apa yang akan terjadi. Mungkin saja kita lupa, di setiap langkah ada
mata Tuhan yang setia memperhatikan kita. Ada tangan Tuhan yang siap menolong
dan membelai kita di setiap kesusahan dan kesedihan.
Akhir-akhir ini saya mulai
belajar tersenyum dengan hal-hal sederhana lagi. Seperti membuat perahu kertas
bersama dua keponakan saya. Kemudian bersama-sama meletakannya di selokan depan
rumah. Berseru meneriakan kapal kertas kita masing-masing.
Saya tidak ingin menjadi manusia
yang untuk bahagia saja membutuhkan 1000 alasan. yah, saya tidak ingin menjadi
mereka yang kerap menciptakan kesedihannya sendiri dengan banyak mengeluh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar