Kamis, 20 Desember 2012

Sederhana = Bahagia



Apa yang paling kamu rindukan dari masa kecilmu? Kalau saya banyak sekali. Diantara banyak itu ada salah satu hal yang benar-benar sangat saya rindukan.
Sederhana. S-E-D-E-R-H-A-N-A. bukan nama rumah makan padang yang tersohor itu. Tidak ada kaitannya sama sekali.
Kesederhanaan adalah hal yang benar-benar saya rindukan.
Dulu, saya mudah sekali tersenyum bahagia dengan alasan-alasan yang sederhana. Hanya karena gelembung-gelembung sabun, senyum saya seketika merekah karenanya. Bahkan, fakta bunga sepatu bisa membuat sepatu kulit lebih mengkilap saja sudah cukup membuat saya tertawa terkagum-kagum.
Di jaman semuanya serba sederhana, saya mendapatkan sahabat dengan cara yang sederhana juga. Dia menyayangi saya bukan karena saya pandai berhitung, padai tertawa, pandai melawak atau semua hal yang kamu kira sebagai kelebihan yang pantas untuk menjadikan saya sahabatmu. Dia memilih saya karena saya adalah apa adanya saya. Saya yang tidak bisa diam. Saya yang gampang sekali nangis hanya karena melihat ulat dan cacing. Saya yang kerap memaksa kalau berkehendak. Dan banyak tentang saya yang sebagian kamu juga tahu.
Saya juga mensyukuri lauk-lauk yang serba sederhana yang ibu saya buat. mau membaginya dengan kakak saya. Dan tidak segan juga membaginya dengan Firman, anak yatim piatu yang kerap mama saya ajak makan dan mandi di rumah saya.
Saya belum tahu model-model baju apa saja yang terbaik. Yang saya tahu adalah ibu saya kerap menjahitkan baju-baju berpita unuk saya. Bliau berharap anaknya ini mau menggunakan pakaian yang sesuai dengan keinginannya. Bliau tahu persis baju semacamnya tidak sesuai dengan hobi saya “Memanjat pohon” namun, dia ingin melihat saya tampak ayu.
Orang dewasa memang ribet yah?
Pikiran saya masih sangat sederhana. Yang saya suka adalah cukup memakai kaos dan celanya yang banyak sakunya. Sehingga cukup untuk membawa uang jajan, makanan dan benda-benda yang nanti saya temukan ketika main.
Saya tidak berfikir sama sekali dengan pujian orang yang mengatakan “ cantik” atau “bagus”. Yang saya tahu, saya cukup bahagia hari ini. Dengan pakaian kotor dan kulit hitam terbakar sinar matahari karena main seharian di luar rumah. Sangat bahagia.
Namun, bagaimana pun juga mesin waktu itu tidak ada. Kita tidak mungkin akan bisa kembali ke masa di mana kita berkehendak. Yang kita perlu sekarang hanya lah bersyukur.
Bersyukur dengan apa yang sudah kita dapat. Memahami nikhmat Tuhan yang tak pernah berhenti mengalir meski kita kerap nakal kepadaNya.
Bila pun kita ingin bahagia seperti dulu saat masih kecil. Kita hanya perlu menyederhana kana apa pun menjadi rasa syukur. Cukup kan rasa sedih kita dengan cukup bahagia.
Kita terlalu ribet dan takut dengan apa yang akan terjadi. Mungkin saja kita lupa, di setiap langkah ada mata Tuhan yang setia memperhatikan kita. Ada tangan Tuhan yang siap menolong dan membelai kita di setiap kesusahan dan kesedihan.
Akhir-akhir ini saya mulai belajar tersenyum dengan hal-hal sederhana lagi. Seperti membuat perahu kertas bersama dua keponakan saya. Kemudian bersama-sama meletakannya di selokan depan rumah. Berseru meneriakan kapal kertas kita masing-masing.
Saya tidak ingin menjadi manusia yang untuk bahagia saja membutuhkan 1000 alasan. yah, saya tidak ingin menjadi mereka yang kerap menciptakan kesedihannya sendiri dengan banyak mengeluh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar