Senin, 17 Desember 2012

How Nice You Are?



Malam minggu kemarin saya sangat tersanjung. Bagaimana tidak, julukan “JOMBLO” yang kerap kawan-kawan saya lontarkan semakin tak punya makna apa-apa bagi saya.
Apa? Saya punya pacar baru? Tidak, saya tidak mempunyai pacar baru. Saya hanya kembali menemukan sosok “laki-laki” yang kembali membuat saya kagum.
Saya memang sosok yang gampang kagum dengan seseorang yang baru, terutama kalau dia cerdas. Namun, dia tidak baru dalam hidup saya. Dia sudah menjadi bagian dari hidup saya semenjak 12 tahun yang lalu.
***
Apa yang bisa dilakukan seorang jomblo di malam minggu? Jalan? Jalan dengan siapa? Mereka yang di luar sana juga sedang sibuk mengurusi urusan cinta mereka masing-masing. Pilihan terbaik adalah membusuk di kamar. Memantau timeline di Twitter dan mencoba mencari kalimat yang bagus untuk berceloteh.
Tidak semua jomblo menghabiskan malam minggu seperti yang saya gambarkan di atas. Mungkin hanya sebagian kecil, dan sebagain kecil itu ada saya di dalamnya. Yah, tertawalah sepuas kamu mendapati diri saya yang kerap membusuk di kamar ketika sebagian dari manusia di bumi bercinta.
Malam minggu ini saya memulainya dengan perasaan muak. Entah muak karena apa. Dada saya mulai naik turu menahan emosi yang entah untuk apa. Jangan sebut ini sebagai galau, saya tidak segampang itu untuk galau. Perasaan malam ini sebut saja sebagai rasa kecewa yang dalam. Rasa kecewa yang bertumpuk dan membuat saya memutar lagu “I’ll survive, cake” dan meresapi setiap liriknya. Berharap setelah mendengar dan meresapi lagu itu saya bisa mengkombinasikan rasa kecewa yang sedang saya rasa. Kemudian saya bisa lupa dengan sosok yang membuat saya kecewa ini.
Saya mulai mendengarkan dan membaca liriknya baik-baik. Merenung dan merenung. Sampai renungan saya terganggu dengan teriakan laki-laki dari teras rumah saya. Saya sangat tahu suara siapa itu. Makanya saya tetap diam dan pura-pura tidak mendengarnya.
Dia itu, bukan orang yang gampang menyerah kalau sudah ada niatan. Tidak mendengar suara saya pun harus diyakinkan dulu apa benar saya tidak ada?
Orang tua saya sangat menyayangi dia. Terutama ibu saya. Dia itu sudah seperti anak ke lima di keluarga saya. Dia datang dan mencari saya adalah lumrah dan membahagiakan bagi mereka. Jadi, ketika dia tanya di mana saya, jawaban paling jujur akan orang tua saya berikan.
***
Setelah selesai mengganti pakaian yang lebih wajar untuk jalan di malam minggu, kami berpamitan kepada orang tua saya. Kami berjanji tidak akan pulang melebihi jam 9 malam.
Tunggu, tunggu. Sepertinya saya belum sempat memperkenalkan sosok yang menculik saya ini. Dia bernama Ma’rij Rafian, umurnya 12 tahun. Dia kelas 6 SD. Badannya tinggi dan agak gendut. Untuk ukuran anak kelas 6 SD dia sangat keren. Sudah cocok lah masuk SMP. Tingginya hampir sama dengan saya. Dia ganteng dan banyak yang suka.  Yang lebih penting sih dia pandai. Nilai matematikanya paling tinggi di kelas. Sebab itulah mala mini saya jalan dengan dia.
Ayahnya yang super galak, menjanjikannya uang apabila ujian kali ini nilai matematikanya terbesar di kelasnya lagi. Janji ayahnya pun menjadi modal awal semangatnya belajar dan yah, dia mendapatkan saya menemaninya menghabiskan uang pemberian ayahnya itu.
Uangnya tak cukup untuk mentraktir saya makan di restoran mahal, bahkan kebab sekalipun. Dia hanya mampu mentraktir saya pangit di perempatan komlek rumah saya. Saya tidak kecewa, saya justu terharu. Uang hasil perjuangan dia selama seminggu, rela dia habiskan bersama saya.
Kami berjalan santai melewati setiap jalan menuju perempatan. Batin saya yang sedang kurang enak tadi berganti seketika menjadi bahagia. Tak berhenti bersyukur telah mengirim sosok yang mulai menghapus kemurungan saya malam itu.
Dia mencairkan suasana dengan guyonan khas banget anak SD. Dia meminta saya menebak tebakan yang dia buat. saya tidak bisa menjawab satu pun tebakan yang dia buat. padahal tebakan semacam itu sudah berpuluh kali saya dengar. Saya tertawa setiap kali tahu kalau jawabannya sudah pernah saya tahu sebelumnya. Kemudian saya kembali bersyukur dalam hati, bagai mana Tuhan mengirimkan orang yang tepat pada saya yang sedang sulit tersenyum ini.
Ketika kita sampai di depan rumahnya, teman-temannya yang sedang menghabiskan malam minggu bersama tak sengaja melihat kami jalan berdua. Dari kejauhan dia mulai memanggil namanya keras-keras. Dia membalikan badan dan mengisyaratkan utuk menutup mulut mereka. Dia meletakan jari telunjuknya ke mulut, memberi kode supaya teman-temannya menutup mulut.
Anak-anak SD macam mereka adalah wajib utuk membuat temannya susah dan kena marah. Isyarat Rafi untuk menutup mulut mereka diartikan sebagai “panggil namaku keras-keras”. Akhirnya Rafi menarik tangan saya dan berlari. Semakin jauh sosok kita, semakin diam mulut mereka.
***
Dia memesan dua mangkok pangsit. Dia duduk persis di depan saya. Kita mulai bercerita tentang sekolah dia. Menceritakan prestasi-prestasi dia yang sebenarnya sudah saya dengar dari orang lain lebih dulu. Dia bercerita tentang mimpi-mimpi dia. Harapan dia kedepan dan sedikit menyinggung tentang perilaku orang tuanya yang kerap kurang adil padanya.
Dia pandai sekali membuat senyum di bibir saya mengembang. Dia pandai bercerita dan melawak. Saya tahu, dia sedang berusaha sekali membuat suasana tidak henting.
***
Dia membayarkan uang hasil belajarnya kepada si mbok tukang pangsit. Kemudian dia meminta saya menunggu sebentar. Ada yang mau dia beli katanya.
Hanya sekitar lima menit dia sudah kemabli dengan membawa dua buah minuman dingin. Dia memberikannya satu untuk saya. Kemudian mengajak saya pulang.
Lagi-lagi saya tersanjung. Bagaimana bisa anak SD sudah pandai sekali sopan terhadap wanita yang dia ajak pergi bermalam minggu.
***
Saya kira dia akan langsung pulang setelah berhasil membawa saya menghabiskan satu mangkok pangsit. Namun dia justru mengantar saya sampai ke rumah. Dia mengajak saya bermain gitar. Tidak, dia tidak pandai bermain gitar. Tentu saya yang memainkannya dan dia bernyayi.
Karena keterbatasan saya dalam menggunakan “kunci” gitar hanya beberapa lagu saja yang bisa kita mainkan.
Kita menghabiskan sisa waktu sebelum jam Sembilan dengan mengobrol. Dia bertanya tentang planning saya kedepan. Dia memberikan beberapa referensi sekolah untuk saya mengajukan lamaran. Saya tidak habis fikir, kenapa dia sampai sejauh itu memikirkan masa depan saya?
***
Jam malam di rumah saya adalah pukul Sembilan. Papa sudah mulai kode sana sini. Saya pun meminta Rafi untuk pulang. Besok saya dan dia berjanji untuk jalan pagi bersama.
Ketika duduk bersama papa, bliau berkata bahwa setiap malam minggu Rafi dating ke rumah mencari saya. Namun, saya kerap menghabiskan malam minggu di rumah tante.
Setiap sore juga dial oh yang kerap mengajak saya berkeliling. Tahu benar saya sudah muak dengan kegiatan yang monoton di rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar