Malam minggu kemarin saya sangat
tersanjung. Bagaimana tidak, julukan “JOMBLO” yang kerap kawan-kawan saya
lontarkan semakin tak punya makna apa-apa bagi saya.
Apa? Saya punya pacar baru?
Tidak, saya tidak mempunyai pacar baru. Saya hanya kembali menemukan sosok
“laki-laki” yang kembali membuat saya kagum.
Saya memang sosok yang gampang
kagum dengan seseorang yang baru, terutama kalau dia cerdas. Namun, dia tidak
baru dalam hidup saya. Dia sudah menjadi bagian dari hidup saya semenjak 12
tahun yang lalu.
***
Apa yang bisa dilakukan seorang
jomblo di malam minggu? Jalan? Jalan dengan siapa? Mereka yang di luar sana
juga sedang sibuk mengurusi urusan cinta mereka masing-masing. Pilihan terbaik
adalah membusuk di kamar. Memantau timeline di Twitter dan mencoba mencari
kalimat yang bagus untuk berceloteh.
Tidak semua jomblo menghabiskan
malam minggu seperti yang saya gambarkan di atas. Mungkin hanya sebagian kecil,
dan sebagain kecil itu ada saya di dalamnya. Yah, tertawalah sepuas kamu
mendapati diri saya yang kerap membusuk di kamar ketika sebagian dari manusia
di bumi bercinta.
Malam minggu ini saya memulainya
dengan perasaan muak. Entah muak karena apa. Dada saya mulai naik turu menahan
emosi yang entah untuk apa. Jangan sebut ini sebagai galau, saya tidak
segampang itu untuk galau. Perasaan malam ini sebut saja sebagai rasa kecewa
yang dalam. Rasa kecewa yang bertumpuk dan membuat saya memutar lagu “I’ll
survive, cake” dan meresapi setiap liriknya. Berharap setelah mendengar dan
meresapi lagu itu saya bisa mengkombinasikan rasa kecewa yang sedang saya rasa.
Kemudian saya bisa lupa dengan sosok yang membuat saya kecewa ini.
Saya mulai mendengarkan dan
membaca liriknya baik-baik. Merenung dan merenung. Sampai renungan saya
terganggu dengan teriakan laki-laki dari teras rumah saya. Saya sangat tahu
suara siapa itu. Makanya saya tetap diam dan pura-pura tidak mendengarnya.
Dia itu, bukan orang yang gampang
menyerah kalau sudah ada niatan. Tidak mendengar suara saya pun harus
diyakinkan dulu apa benar saya tidak ada?
Orang tua saya sangat menyayangi
dia. Terutama ibu saya. Dia itu sudah seperti anak ke lima di keluarga saya.
Dia datang dan mencari saya adalah lumrah dan membahagiakan bagi mereka. Jadi,
ketika dia tanya di mana saya, jawaban paling jujur akan orang tua saya
berikan.
***
Setelah selesai mengganti pakaian
yang lebih wajar untuk jalan di malam minggu, kami berpamitan kepada orang tua
saya. Kami berjanji tidak akan pulang melebihi jam 9 malam.
Tunggu, tunggu. Sepertinya saya
belum sempat memperkenalkan sosok yang menculik saya ini. Dia bernama Ma’rij
Rafian, umurnya 12 tahun. Dia kelas 6 SD. Badannya tinggi dan agak gendut.
Untuk ukuran anak kelas 6 SD dia sangat keren. Sudah cocok lah masuk SMP.
Tingginya hampir sama dengan saya. Dia ganteng dan banyak yang suka. Yang lebih penting sih dia pandai. Nilai
matematikanya paling tinggi di kelas. Sebab itulah mala mini saya jalan dengan
dia.
Ayahnya yang super galak,
menjanjikannya uang apabila ujian kali ini nilai matematikanya terbesar di
kelasnya lagi. Janji ayahnya pun menjadi modal awal semangatnya belajar dan
yah, dia mendapatkan saya menemaninya menghabiskan uang pemberian ayahnya itu.
Uangnya tak cukup untuk
mentraktir saya makan di restoran mahal, bahkan kebab sekalipun. Dia hanya
mampu mentraktir saya pangit di perempatan komlek rumah saya. Saya tidak
kecewa, saya justu terharu. Uang hasil perjuangan dia selama seminggu, rela dia
habiskan bersama saya.
Kami berjalan santai melewati
setiap jalan menuju perempatan. Batin saya yang sedang kurang enak tadi
berganti seketika menjadi bahagia. Tak berhenti bersyukur telah mengirim sosok
yang mulai menghapus kemurungan saya malam itu.
Dia mencairkan suasana dengan
guyonan khas banget anak SD. Dia meminta saya menebak tebakan yang dia buat.
saya tidak bisa menjawab satu pun tebakan yang dia buat. padahal tebakan
semacam itu sudah berpuluh kali saya dengar. Saya tertawa setiap kali tahu
kalau jawabannya sudah pernah saya tahu sebelumnya. Kemudian saya kembali
bersyukur dalam hati, bagai mana Tuhan mengirimkan orang yang tepat pada saya
yang sedang sulit tersenyum ini.
Ketika kita sampai di depan
rumahnya, teman-temannya yang sedang menghabiskan malam minggu bersama tak
sengaja melihat kami jalan berdua. Dari kejauhan dia mulai memanggil namanya
keras-keras. Dia membalikan badan dan mengisyaratkan utuk menutup mulut mereka.
Dia meletakan jari telunjuknya ke mulut, memberi kode supaya teman-temannya
menutup mulut.
Anak-anak SD macam mereka adalah
wajib utuk membuat temannya susah dan kena marah. Isyarat Rafi untuk menutup
mulut mereka diartikan sebagai “panggil namaku keras-keras”. Akhirnya Rafi menarik
tangan saya dan berlari. Semakin jauh sosok kita, semakin diam mulut mereka.
***
Dia memesan dua mangkok pangsit.
Dia duduk persis di depan saya. Kita mulai bercerita tentang sekolah dia.
Menceritakan prestasi-prestasi dia yang sebenarnya sudah saya dengar dari orang
lain lebih dulu. Dia bercerita tentang mimpi-mimpi dia. Harapan dia kedepan dan
sedikit menyinggung tentang perilaku orang tuanya yang kerap kurang adil
padanya.
Dia pandai sekali membuat senyum
di bibir saya mengembang. Dia pandai bercerita dan melawak. Saya tahu, dia
sedang berusaha sekali membuat suasana tidak henting.
***
Dia membayarkan uang hasil
belajarnya kepada si mbok tukang pangsit. Kemudian dia meminta saya menunggu
sebentar. Ada yang mau dia beli katanya.
Hanya sekitar lima menit dia
sudah kemabli dengan membawa dua buah minuman dingin. Dia memberikannya satu
untuk saya. Kemudian mengajak saya pulang.
Lagi-lagi saya tersanjung.
Bagaimana bisa anak SD sudah pandai sekali sopan terhadap wanita yang dia ajak
pergi bermalam minggu.
***
Saya kira dia akan langsung pulang setelah berhasil membawa
saya menghabiskan satu mangkok pangsit. Namun dia justru mengantar saya sampai
ke rumah. Dia mengajak saya bermain gitar. Tidak, dia tidak pandai bermain
gitar. Tentu saya yang memainkannya dan dia bernyayi.
Karena keterbatasan saya dalam menggunakan “kunci” gitar
hanya beberapa lagu saja yang bisa kita mainkan.
Kita menghabiskan sisa waktu sebelum jam Sembilan dengan
mengobrol. Dia bertanya tentang planning saya kedepan. Dia memberikan beberapa
referensi sekolah untuk saya mengajukan lamaran. Saya tidak habis fikir, kenapa
dia sampai sejauh itu memikirkan masa depan saya?
***
Jam malam di rumah saya adalah
pukul Sembilan. Papa sudah mulai kode sana sini. Saya pun meminta Rafi untuk
pulang. Besok saya dan dia berjanji untuk jalan pagi bersama.
Ketika duduk bersama papa, bliau
berkata bahwa setiap malam minggu Rafi dating ke rumah mencari saya. Namun,
saya kerap menghabiskan malam minggu di rumah tante.
Setiap sore juga dial oh yang
kerap mengajak saya berkeliling. Tahu benar saya sudah muak dengan kegiatan
yang monoton di rumah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar