Rabu, 19 Desember 2012

Sayang (?)



Nama adalah doa. Di setiap nama kita di sebut, saat itu juga doa akan langsung terbang menuju langit. Di mana di sana Tuhan tinggal, memperhatikan kita. Itu sebabnya orang tua selalu sibuk mencari nama yang paling bagus untuk anaknya.
Bayang kan, berapa kali nama kita di sebut semenjak lahir? Sebanyak itu juga harapan dan doa orang tua kita terucap untuk kita. Hal ini mengingatkan saya tentang sebuah kisah di Planet Pink. Di sana semua manusia bernama sayang. Tidak ada nama lain selain nama sayang.
Kalian tahu kenapa semua manusia yang tinggal di sana bernama sayang? Karena mereka sangat percaya kalau setiap nama adalah doa.
Manusia-manusia yang tinggal di panet Pink, dulunya adalah manusia yang tinggal di bumi seperti kita. Namun, ketika di bumi telah banyak kejahatan dan saling menyakiti sesama, mereka pun sepakat untuk pindah selamanya ke sana.
Mereka mempunyai satu harapan yang sama, sehingga sebelum mereka pergi ke planet Pink mereka sudah sepakat untuk beberapa hal.
Yang pertama adalah semua manusia yang ingin tinggal di panet Pink harus mengganti namanya menjadi sayang. Dengan demikian mereka berharap di setiap kata sayang yang terucap, kasih sayang akan terus ada di panet pink.
Yang ke dua, di panet tidak ada rasa yang melebih rasa sayang. Mereka tidak mengenal cinta. Karena bagi mereka, rasa cinta hanya akan menimbulkan rasa kesakit hatian, egois dan serakah. Mereka memandang rasa cinta yang manusia bumi miliki, adalah penyebab banyaknya orang saling menyakiti untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Yang ke tiga adalah tidak ada yang mempunyai hubungan melebihi pertemanan. Sehingga semua orang diberikan perhatian dan porsi perasaan sayang yang sama. Tidak ada rasa iri dan cemburu.
Setiap manusia yang tinggal di panet Pink di perbolehkan mengunjungi bumi tidak lebih dari tujuh hari dalam sepuluh tahun.
Bagi mereka yang melanggar aturan, tidak diperbolehkan lagi tinggal di panet Pink.
Setelah mereka sepakat dengan perjanjian itu, beberpa orang membatal kan rencana mereka untuk pindah ke sana. Namun, banyak dari mereka yang tetep memutuskan untuk pindah. Termasuk keluargamu dan keluargaku.
Kamu tahu dulu nama kita siapa? Ayahku bilang namaku adalah Tara dan namamu adalah Nandho. Kita sudah bersahabat semenjak kecil. Kau tanya kenapa? Tentu saja karena ayah kita sama-sama tentara di bumi.
Tentara adalah prajurit penjaga. Di panet pink ayah kita selalu menjaga semua hal yang menyangkut keselamatan kita di panet pink. Tugas tentara di bumi tidak jauh berbeda dari itu.
Tak penting nama kita siapa dulunya. Yang jelas nama kita sayang. Kamu sayang dan aku sayang.
Syarat kita boleh tinggal di planet ini adalah kita tidak boleh ada rasa saling cinta, kita hanya boleh mempunyai rasa sayang. Sayang yang adil untuk semuanya.
Sepertinya aku sudah melanggarnya.
Kamu tahu persis aku selalu mempunyai sayang yang lebih kepadamu. Aku selalu memberikan perhatianku hanya kepadamu. Ah, kamu pasti sudah tahu itu.
Setiap bermain di taman Keceriaan, diam-diam aku memperhatikan tingkahmu. Cemburu dan marah ketika kamu mulai asik bermain dengan yang lain selain aku.
Kamu selalu meledekku. Senang benar kamu melihatku marah. Sikap acuhmu semakin membuatku takut kamu akan merasa lebih bahagia bermain dengan yang lain. Secemburu itu pun aku harus tetap menahannya.
Kamu tahu apa yang paling menyenangkan dari semuanya? Ketika raja planet pink menyuruh kita turun ke bumi untuk pertama kali.
Selain aku penasaran dengan planet bumi, hal yang lebih membahagiakan hatiku adalah aku satu kelompok denganmu. Iya, kita berdua satu kelompok.
Ketika pertama kali kita sampai di bumi, kamu begitu takjub melihat apa yg ada di bumi. Aku sendiri takjub, namun satu perjalanan denganmu lebih membuatku takjub.
Kamu begitu menyukai hobi manusia-manusia di bumi. Kamu suka photography, traveling, musik dan masih banyak hal lain yang kamu nikmati di bumi. Aku? Aku masih sama. Aku masih dengan hobiku merangkai kata untukmu. Kata yang aku tulis dengan hati dan tak pernah kau sempat kan untuk membaca barang sejenak. Tak apa, aku tak mengeluhkan itu.
Waktu enam hari di bumi tentu saja tak cukup untuk kamu menikmati segalanya. Kamu yang selalu ingin bisa segalanya dan ingin tahu segalanya, tinggal di bumi tentu sangat mengasikan.
Kita pulang satu jam telat dari ijin yang diberikan raja. Dia murka besar. Aku sungguh sangat takut, namun kamu justru sangat gembira. Aku melihat senyum kegembiraan di bibirmu saat sang raja mengancam mengusir kita dari planet Pink.
Setiap harinya kamu hanya bisa melamun, murung dan marah-marah. Setiap aku tanya kenapa, kamu tidak pernah menjawab. Aku tahu kamu sedang menahan inginmu tinggal di bumi.
Diam-diam aku mencuri surat ijin turun ke bumi saat raja menyuruhku membersihkan laci-laci di ruang kerjanya. Aku berikan kepadamu, kamu begitu gembira saat itu. Kamu mencium keningku, aku merasa seisi dunia pun rela aku curi dari tangan tuhan untukmu.
Ketika menunggumu pulang, aku terus-terusan memandangi alarm planet Pink. Semua yang datang terlambat ke planet ini, alarm akan otomatis berbunyi. Aku tidak menghawatirkan keselamatanku, aku lebih menghawatirkan hukuman yang akan menimpamu.
Aku sungguh sangat bersyukur, kamu tak sempat membuat alarm itu berbunyi. Namun, siapa kamu sehingga setiap kali mengambil keputusan jantungku hampir lepas karenanya?
Kamu membuat heboh sesisi planet. Kamu ingin selamanya tinggal di bumi. Kamu ingin meninggalkan ku selamanya.Sungguh hatiku remuk karenanya.
Apa hebatnya bumi?
Setiap kali aku menyanyakan itu pada diriku, jawabannya adalah kamu. Di bumi ada kamu, dan di sana aku pasti akan bahagia.
Ayahku pasti tidak akan mengizinkaku ikut bersamamu. Oleh karena itu, dua hari kepergianmu aku pustuskan. Bumi adalah tempamu dan tempatku tinggal.
Bagaimana aku tidak sakit sejadi-jadinya. Di sana aku menemukanmu dengan kesukaanmu yang lain. Aku sadar, aku tidak pernah menjadi kesukaanmu. Tidak seperti aku menyayangimu, yang lebih dari sayang.
Manusia bumi bilang itu cinta. Yah, kata mereka sayang yang melebihi sayang adalah cinta. Cinta adalah kata yang aku temukan di bumi.
Namun, mengapa di planet kita tidak ada yang pernah menyebut kata itu? Apa mereka tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan kepadamu?
***
NB: Putek dan kehabisan ide. Nanti disambung kalau sudah ada mood. :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar