Senin, 20 Agustus 2012

Kamar Tidur Grack


kisah ini berawal dari sebuah pintu rahasia yang tidak sengaja ditemukan Grack di bawah tempat tidurnya. pintu yang tak sengaja terbuka sewaktu ia sengaja menghindari kedatangan ayahnya yang pasti akan memarahinya karena berkelahi dengan salah satu temanya di sekolah. bukan teman sebenarnya, karena teman tidak akan mengganggu Grack setiap kali ia ingin sendiri di gudang sekolahnya. mungkin menyendiri untuk anak seusia Grack yang sedang gemar-gemarnya menghabiskan energinya untuk mengejar gadis di sekolahnya memang sedikit aneh. tapi apakah aneh bila Grack lebih memilih untuk menggambar daripada bergabung dengan mereka? Grack selalu saja
kesal bila mendapat pertanyaan seperti itu.

***

ketika pintu itu terbuka, Grack kaget bercampur penasaran. untuk apa pintu di bawah tempat tidur ini dibuat? 
apa ternyata di rumahnya ada ruang bawah tanah? 
dengan rasa penasaran akhirnya ia pun turun melewati setiap tangga yang ada di balik pintu itu. 
ruangnya pengap, gelap dan dingin. namun Grack tetap memberanikan dirinya untuk terus berjalan. hantinya terus berntanya-tanya. 
apa yang akan terjadi di depan sana? 
apa akan ada drakula penghisap darah yang dikurung keluarganya di bawah sini? 
atau akan ada mayat yang telah mebusuk seperti di film-film detective yang sering ia lihat? 
oh Tuhan, apa yang telah ku lakukan sampai aku berfikir untuk masuk ke ruang ini, kata Grack dalam hati.
keringatnya mulai bercucuran, tanganya mulai gemetar, dia mulai ragu untuk terus melanjutkan langkahnya. ia berdiri, berfikir dalam-dalam. apa aku harus melanjutkan sampai ke bawah, atau lebih baik aku kembali ke kamar? 
ah... kembali ke kamar? bertemu dengan ayah dan membicarakan perkelahianya tadi siang? 
Grack tentu saja lebih baik kedinginan di ruang itu dari pada bertemu dengan ayahnya. 
semenjak kematian ibunya, Grack hanya menghabiskan waktu bertengkar dengan ayahnya di rumah. kadang ia berfikir untuk kabur dari rumah, tapi tentu saja ayahnya akan dengan gampang bisa menemukanya. 
yah, ayah Grack adalah salah satu orang ternama dan mempunyai kekuasaan. sekali mulutnya terucap, orangpun akan senang hati melaksanakan perintahnya.
Grack akhirnya memutuskan untuk kembali berjalan terus melewati tangga-tagga yang sepertinya tak berujung.
***
di titik lelahnya, Grack melihat satu cahaya terang di sana. cahanya yang seperti mengajaknya untuk terus berjalan ke depan, yah sepertinya itu ada jalan.
Grack ternganga, seakan tidak percaya kalau ia sampai di suatu tempat yang terlihat begitu indah. di sana banyak pohon-pohon menjuntai tinggi, bunga warna-warni yang terhampai di setiap rumput yang hijau, dan hah? apa itu seekor tupai yang sedang bernyayi? ah, bukan seekor, tapi dua... ah bukan dua.. tapi tigga... empat.. dan Grack berhenti menghitung tupai-tupai itu karena selain tupai ia juga melihat angsa, kuda, jerapah, gajah dan masih banyak jenis hewan yang sedang berpesta. 
Greck benar-benar heran dan tidak percaya dengan semua yang ia lihat. Grack ingin lari sebelum hewan-hewan yang bisa berbicara bahasa manusia itu menyadari kedatangannya. bisa saja mereka membunuhku, pikir Grack. yah aku harus lari.
namun, sebelum Grack melakukan apa yang otaknya isyaratkan tersebut, si tupai yang sedang bernyayi lebih dulu menyadari kalau ada manusia yang datang ke tematnya.
tupai tak kalah kaget, dan yah semua hewan yang sedang berpesta tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di dunianya.
Grack panik, ia berlari masuk ke ruang gelap yang telah membawanya ke temat aneh itu. ia berlari menyusuri tangga yang telah ia lewati tadi. ia berlari dan berlari semakin cepat. Grack memang benci dengan ayahnya, tapi dia juga belum siap jika mati di tangan sekumpulan hewan aneh itu. sesampai di pintu di bawah tempat tidurnya Grack pun langsung keluar dan ah... kepalanya terbentur kayu bagian bawah tempat tidurnya. 
oh shit..!!! sakit....
teriakan Grack terdengar oleh ayahnya yang sudah berada di luar pintu kamarnya, ia memang hampir pergi dari kamar Grack tadi karena tak berhasil menemukan anaknya di kamar. namun yah, suara teriakan Grack tentu akan membawanya kembali lagi ke kamar Grack.
***
Grack dan ayahnya telah berada di ruang keluarga. di sana terpajang foto Grack bersama ibu dan ayahnya, piano, guci-guci antik yang tertata elit dan beberapa foto Grack sewaktu ibunya masih hidup.
"grack, apa yang terjadi tadi siang di sekolah?" ayah Grack mulai mengintrogasi anaknya.
"apa selama ini ucapan ayah hanya kau anggap sampah?" nadanya mulai keras.
grack tetap diam, lamunannya tertuju pada jendela di ruangan itu. cahanya yang masuk mengingatkannya akan kejadian tadi di bawah tempat tidurnya.
"Grack..!!" teriak ayah Grack memecahkan lamunanya.
baiklah, sepertinya kita memang sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik Grack. mungkin sebaiknya ayah mengirimu ke sekolah asrama yang jauh dari rumah. mungkin itu akan hubungan kita lebih baik.
ucapan ayah Grack sungguh-sunguh kali ini. tanpa sadar Grack kaget bercampur sedih, ayah yang selama ini terus mempertahankannya terus berada di rumah ini ternyata sekarang memutuskan untuk menjauhkannya dari rumah. bukankah ini yang kau inginkan Grack? batinya. yah, ini yang aku inginkan, kenapa aku harus sedih, jawaban itu muncul dari hatinya, namun anehnya itu terasa sangat sakit.
grack keluar dari ruang itu dengan hati sakit dan sedih, naun ia belum tahu, kenapa perasaan itu muncul ketika ayahnya mengabulkan keinginannya untuk jauh dari rumah. 
ia berjalan gontai menuju kamarnya, namun ketika memegang gagang pintu, ia ingat akan hewan-hewan di bawah tempat tidurnya. bisa saja mereka mengikutinya tadi dan sekarang sudah sampai di kamarnya untuk siap membunuhnya. 
Grack mulai ragu untuk masuk ke kamarnya sendiri, namun ia lebih ragu untuk meminta tidur bersama ayahnya malam ini. aku hanya perlu teriak jika hewan-hewan itu ada di kamarku, pikir Grack dalam hati. Grak membuka pintu kamarnya pelan-pelan. jantungnya berdetak lebih kencang dari larinya tadi di tangga. ia berharap hari ini hanya bagian dari mimpi yang sebentar lagi terbangun karena pagi.
***
Grack masih memikirkan keputusan ayahnya. ia masih bertanya-tanya kenapa ia harus merasa sedih untuk tinggal jauh dari rumah, tinggal jauh dari ayahnya. 
di sela-sela banyak pertanyaan tentang keputusan ayahnya, terselip mahluk-mahluk aneh tadi siang.itu membuatnya tidak nyaman utuk terus berada di atas tempat tidur. 
apa malam ini akan aman? guman Grack pelan. 
ah, seandainya ibu masih ada aku pasti takan setakut ini.
grack mulai mengingat-ingat kenangan tentang ibunya. ia benar-benar rindu dengan wanita yang paling ia cintai itu. 
***
Grack berjalan pelan menuju kamar ayahnya. ia mengetuk pintu pelan. beberapa ketukan telah membangunkan ayahnya yang sebenarnya belum tidur. 
ada apa Grack? 
ada yang perlu kita bicarakan tentang keputusan ayah tadi siang?
tidak yah, aku hanya merindukan ibu. apa aku boleh tidur di sini malam ini? tanya Grack ragu.
baiklah. jawab ayah Grack singkat.

***
sepanjang malam Grack hanya bisa memejamkan mata, namun fikirannya selalu tentang ayah, ibu dan hewan-hewan di balik tempat tidurnya. 
lusa ia harus sudah meninggalkan rumah ini, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi untuk Grack mengetahi apa yanghewan-hewan itu lakukan di bawah tempat tidurnya, atau lebih tepatnya ada kehidupan apa di bawah tempat tidur Grack.
Grack pelan-pelan keluar dari kamar ayahnya, ia menuju kamarnya, menuju pintu di bawah tempat tidurnya. 
ia memberanikan diri lagi untuk kedua kalinya membuka pintu itu dan masuk ke dalam sana. kali ini ia membawa senter, yah di dalam sana amat gelap bodoh untuk tidak membawa alat penerang ketika datang untuk ke dua klinya, pikir Grack.

**bersambung**


Tidak ada komentar:

Posting Komentar