Jumat, 02 Desember 2011

Just Nothing

Aku anak kampung. Tapi aku tak mau dibilang kampungan. Kata kampungan selalu saja mengesankan kita pada sisi negatif. Pada sisi di mana kita berasal dari lingkungan yang bodoh, norak dan jauh dari kata modern. Tapi untuk disebut anak kota pun aku enggan. Anak kota selalu diidentikan dengan kesombongan, hura-hura dan pergaulan bebas. Mungkin tidak semua berpandangan seperti itu, tapi kebanyakan dari meraka berfikit demikian. 

Aku adalah aku, bukan yang kau fikirkan ataupun yang mereka katakan tentang aku.

aku terlahir dari keluarga sederhana, bahkan sangat sederhana untuk digambarkan dari hidup yang berkecukupan. Aku pernah harus berbagi sebutir telor rebus dengan tiga saudaraku. bahkan nasi putih dan garam pun akan menjadi sarapan pagi yang lezat ketika bapak belum pulang dari jualan kayu bakar. 

bapaku bukan orang yang "bersekolah tinggi" dengan deretan tittle di nama depan dan belakangnya. yah, bapaku bukan orang yang berpendidikan tinggi, namun dia tidak BODOH seperti orang-orang yang menilai tukang becak adalah profesi yang rendah dan menjadi percontohan orang-orang yang tak sukses. Aku masih heran kenapa tukang becak diidentikan dengan orang yang gagal. aku juga heran kenapa orang berdasi lebih dihormati dari pada orang yang membawa cangkul dan menanam padi di sawah. Penampilan fisik memang selalu saja menjadi daya tarik mata menilai suatu hal. dan itu lah sewajarnya manusia. 

Bapak mempunyai banyak cerita tentang pewayangan. Cerita pandhawa lima selalu saja menjadi sukaanku.di sana bercerita tentang kerajaannya yang makmur karena rajanya bijaksana. Tentang seseorang yang tamak akan kekuasaan. Tentang perjuangan mendapatkan kekuasaan dengan jalan sesat dan tentang kelapangan hati pendhawalima merelakan kerajaannya. pada akhirnya semua berakhir bahagia. Seorang anak raja akan tetap menjadi raja. Pandhawa lima mendapatkan kerajaan lain. Kerajaan yang lebih besar, lebih mempunyai kekuasaan dari kerajaan sebelumnya.

cerita-cerita bapak selalu saja menghayalkanku tentang sebuah kerajaan tentunya. Aku berkhayal aku adalah anak raja. Berkhayal bapak adalah anak raja yang tidak suka tinggal di istana. Anak raja yang pada akhirnya harus kembali ke istana untuk meneruskan tahta ayahnya. Tapi STOP, itu semua hanya imajenasimu. Imajenasimu yang selalu melewati batas kebodohanmu. imajenasimu yang selalu kau simpan karena semua orang akan mencemoohmu tentang mimpi-mimpimu itu.
yah, aku sadar. Ini lah realita. Sekarang bukan zaman pandhawa lima yang masih menggunakan kemben untuk baju-bajunya dan sihir sebagai senjatanya. sekarang era tekhnologi. semua bisa dilakukan dengan mesin. sudah tak lagi kontak batin yang ada kontak handphone. sudah tak ada lagi karpet terbang, yang ada pesawat terbang. dan untuk hidupku sendiri, sudah tidak ada lagi kerajaan atau pun warisan kakeku untuk bapakku. karena si mbah sudah wafat dua belas tahun yang lalu. saatnya bangun dari tidurmu, dari mimpi-mimpimu. Buka mata dan lihat realita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar