Gue
selalu ngrasa kalau gue adalah mahluk mars yang nyasar di bumi. Gue selalu saja
ngrasa kalau gue adalah satu-satunya manusia yang selalu ketawa dan ngetawain
apa pun yang terjadi dalam hidup gue. Gue juga selalu heran dengan semua yang
selalu dianggap umum oleh orang-orang di sini.
Gue
kadang benci dengan gue yang seperti ini. gue yang selalu etah mengapa merasa
lucu melihat apa-apa yang ada di bumi. Gue kaya spesies lain yang di masukan
dalam lingkungan yang bukan alam gue. Namun karena gue merasa gue udah terlalu
lama dan kebiasaan di lingkungan ini, akhirnya gue merasa sama dengan mereka.
Ingat
mamot cewek yang merasa dirinya itu tikus tanah dalam film ice age? Gue merasa
kaya dia. Gue merasa sama kaya kalian, tapi dalam diri gue, gue selalu ngrasa
kalau ini bukan gue.
Senyaman-nyamannya
menjadi orang lain, tetap saja di sudut hatimu ada rindu yang sungguh untuk
tetap dan kembali menjadi kamu yang sebenarnya kamu.
Sekarang
gue sedang entah merasa bersalah dengan siapa. Dengan diri gue sendiri atau
justru gue sedang sungguh merasa bersalah dengan orang-orang disamping gue. Atau
gue merasa bersalah dengan keduanya?
Gue
sungguh sangat tidak nyaman dengan ini semua. Sungguh, gue merasa ketika gue
sekarang sedang di rumah, justru gue merasa gue sedang tidak di rumah. Gue seperti
asing dengan semua yang sedang gue lakuin. Dan gue udah ngecewain diri gue
sendiri sekaligus orang-orang disekitar gue dengan kondisi seperti ini.
A:
|
Apalah arti pulang ketika setiap
tempat senantiasa berbisik perlahan, "Aku adalah rumah."
|
A:
|
Adakah rumah terbatas pada usia,
pada harum bunga di halaman depan, atau memori yang tertinggal di bawah
bantal kesayangan?
|
B:
|
Sebenarnya, tak perlu kita pulang
untuk bertemu rumah.
|
A:
|
Maksudmu? Apa mungkin, pulang
diciptakan agar ada alasan untuk pergi?
|
A:
|
Barangkali, kita tidak pernah
benar-benar pulang atau pergi?
|
A:
|
Barangkali, pergi sebenarnya
adalah pulang, begitupula pulang sesungguhnya adalah pergi.
|
A:
|
(mengambil nafas dalam)
|
A:
|
(diam sejenak, membiarkan
pikirannya meliar)
|
B:
|
Barangkali, kita semua hanya
sedang menunggu untuk bangun dari mimpi?
|
B:
|
(membiarkan waktu untuk memberi
jeda di antara sela-sela pikirannya, gaung setiap katanya terdengar bersautan
di belakang kepala)
|
A:
|
Kalau memang begitu adanya, kurasa
tak apa.
|
A:
|
Sebab tidak semua mimpi tak nyata.
Mungkin juga, tidak semua pulang ke rumah dan setiap pergi itu ke sana.
|
B:
|
(menutup mata, berserah pada
gaduhnya lompatan pikiran, lalu perlahan membuka mata)
|
B:
|
Aku ingin jadi mimpi yang nyata
dan nyata yang tak ada.
|
A:
|
(tertawa kecil)
|
A:
|
Suatu saat kita akan ada di sana.
|
B:
|
Di sana...
|
B:
|
Apa mungkin itu yang mereka maksud
dengan rumah?
|
A:
|
Mungkin. Mungkin saja ia rumah...
atau mungkin juga bukan.
|
A:
|
Tapi aku yakin untuk berada di
sana, kita tak perlu lagi pulang atau pergi.
|
B:
|
Hahaha, kamu ini gila. Pembicaraan
ini sudah gila.
|
A:
|
Tak ada salahnya kan bermimpi?
|
A:
|
Mungkin saja kita bisa menjadi
mimpi yang nyata
|
B:
|
...dan nyata yang tak ada.
|
B:
|
Hahaha.. Di sana ya?
|
A:
|
Iya, aku tunggu kamu di sana.
|
Dee, Supernova: Akar
ya,
ketika gue baca tulisan itu. Banyak bangat lintasan-lintasan pertanyaan yang
semakin membuat gusar.
Mungkin
ketika keluarga gue baca ini mereka akan sedih. L

Tidak ada komentar:
Posting Komentar