Selasa, 07 Mei 2013

Rumah



Gue selalu ngrasa kalau gue adalah mahluk mars yang nyasar di bumi. Gue selalu saja ngrasa kalau gue adalah satu-satunya manusia yang selalu ketawa dan ngetawain apa pun yang terjadi dalam hidup gue. Gue juga selalu heran dengan semua yang selalu dianggap umum oleh orang-orang di sini.
Gue kadang benci dengan gue yang seperti ini. gue yang selalu etah mengapa merasa lucu melihat apa-apa yang ada di bumi. Gue kaya spesies lain yang di masukan dalam lingkungan yang bukan alam gue. Namun karena gue merasa gue udah terlalu lama dan kebiasaan di lingkungan ini, akhirnya gue merasa sama dengan mereka.
Ingat mamot cewek yang merasa dirinya itu tikus tanah dalam film ice age? Gue merasa kaya dia. Gue merasa sama kaya kalian, tapi dalam diri gue, gue selalu ngrasa kalau ini bukan gue.
Senyaman-nyamannya menjadi orang lain, tetap saja di sudut hatimu ada rindu yang sungguh untuk tetap dan kembali menjadi kamu yang sebenarnya kamu.
Sekarang gue sedang entah merasa bersalah dengan siapa. Dengan diri gue sendiri atau justru gue sedang sungguh merasa bersalah dengan orang-orang disamping gue. Atau gue merasa bersalah dengan keduanya?
Gue sungguh sangat tidak nyaman dengan ini semua. Sungguh, gue merasa ketika gue sekarang sedang di rumah, justru gue merasa gue sedang tidak di rumah. Gue seperti asing dengan semua yang sedang gue lakuin. Dan gue udah ngecewain diri gue sendiri sekaligus orang-orang disekitar gue dengan kondisi seperti ini.

A:
Apalah arti pulang ketika setiap tempat senantiasa berbisik perlahan, "Aku adalah rumah."
A:
Adakah rumah terbatas pada usia, pada harum bunga di halaman depan, atau memori yang tertinggal di bawah bantal kesayangan?
B:
Sebenarnya, tak perlu kita pulang untuk bertemu rumah.
A:
Maksudmu? Apa mungkin, pulang diciptakan agar ada alasan untuk pergi?
A:
Barangkali, kita tidak pernah benar-benar pulang atau pergi?
A:
Barangkali, pergi sebenarnya adalah pulang, begitupula pulang sesungguhnya adalah pergi.
A:
(mengambil nafas dalam)
A:
(diam sejenak, membiarkan pikirannya meliar)
B:
Barangkali, kita semua hanya sedang menunggu untuk bangun dari mimpi?
B:
(membiarkan waktu untuk memberi jeda di antara sela-sela pikirannya, gaung setiap katanya terdengar bersautan di belakang kepala)
A:
Kalau memang begitu adanya, kurasa tak apa.
A:
Sebab tidak semua mimpi tak nyata. Mungkin juga, tidak semua pulang ke rumah dan setiap pergi itu ke sana.
B:
(menutup mata, berserah pada gaduhnya lompatan pikiran, lalu perlahan membuka mata)
B:
Aku ingin jadi mimpi yang nyata dan nyata yang tak ada.
A:
(tertawa kecil)
A:
Suatu saat kita akan ada di sana.
B:
Di sana...
B:
Apa mungkin itu yang mereka maksud dengan rumah?
A:
Mungkin. Mungkin saja ia rumah... atau mungkin juga bukan.
A:
Tapi aku yakin untuk berada di sana, kita tak perlu lagi pulang atau pergi.
B:
Hahaha, kamu ini gila. Pembicaraan ini sudah gila.
A:
Tak ada salahnya kan bermimpi?
A:
Mungkin saja kita bisa menjadi mimpi yang nyata
B:
...dan nyata yang tak ada.
B:
Hahaha.. Di sana ya?
A:
Iya, aku tunggu kamu di sana.
Dee, Supernova: Akar
ya, ketika gue baca tulisan itu. Banyak bangat lintasan-lintasan pertanyaan yang semakin membuat gusar.
Mungkin ketika keluarga gue baca ini mereka akan sedih. L

Tidak ada komentar:

Posting Komentar