Gue udah sampai pada titik jenuh. Melakukan hal-hal yang
membuat kepala gue makin berat untuk sekedar menengadah. Membuat otak gue
semakin kencang untuk berfikir melanjutkan hidup di tanah lain.
Gue memulai pagi dengan keresahan hati, kebosanan jiwa yang
membuat siang menjadi neraka yang tak berujung hingga malam. Gue udah pada satu
titik di mana cuma gue yang tahu tentang kegusaran gue. Dan orang-orang sekitar cuma tahu kalau gue happy dan have no problem. Lucu.
Gue ngabisin hari-hari dengan pusing di kepala dan muntah.
Wujud penolakan jiwa karena kelamaan ngabisin waktu dengan kegiatan yang sama
sekali gak produktif untuk manusia seumuran gue.
Keluarga gue sedang dilanda masalah ekonomi. Meski masalah
ekonomi keluarga gue gak seribet pengusaha yang punya hutang ratusan milyar,
bagi keluarga gue yang berasal dari ekonomi rendah tentu pusing tujuh keliling.
Babeh kalau udah kesinggung dikit langsung muncrat omongan
yang kasar-kasar. Dan mama gue, kalau udah kesinggung dikit langsung
teriak-teriak atau kalau gak nangis sambil meratapi nasib dan berdoa yang
enggak enggak. Muak gue.
Kakak gue? Don’t ask about them. Sometime when I say that I
don’t wanna marry one day, Its because of them. The figure of man in my
family.
Gue serius pingin hidup mandiri. Gue mau ngasah potensi
apapun yang ada di diri gue. Untuk ngurusin soal cowok, itu nanti. Hidup gue
udah pusing dengan masalah-masalah ini. Gue lagi gak butuh nambah-nambah
masalah apa lagi masalah hati.
Capek deh setiap kali mereka badmood gue yang jadi sasaran
kemarahan mereka. Gue bukan tembok, gue manusia yang punya hati kalau kalian
marah-marain. Hih..!! gue udah gak betah. Someone please take me away.
Just it for today. Palingan entar, bentar lagi gue disuruh
njemur dengan kata tolong yang gak sopan. Habis itu gue nangis deh.
Hidup gue kok jadi aneh gini sih? Jungkir balik gak
jelas..!!! :’(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar